Jumat, 12 Desember 2025

28. KETEGASAN ABDULLAH BN MAS'UD TERHADAP PENGINGKAR BACAAN AL-QUR'AN DAN PELAKU KEMAKSIATAN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنَّا بِحِمْصَ فَقَرَأَ ابْنُ مَسْعُودٍ سُورَةَ يُوسُفَ فَقَالَ رَجُلٌ مَا هَكَذَا أُنْزِلَتْ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحْسَنْتَ وَوَجَدَ مِنْهُ رِيحَ الْخَمْرِ فَقَالَ أَتَجْمَعُ أَنْ تُكَذِّبَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَتَشْرَبَ الْخَمْرَ فَضَرَبَهُ الْحَدَّ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah ia berkata, Suatu ketika, kami berada di Himsh, lalu Ibnu Mas'ud membaca surat Yusuf. Kemudian seorang laki-laki berkata, "Bacaan surat ini diturunkan tidaklah seperti itu." Ibnu Mas'ud berkata, "Aku telah membacanya di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, 'Bacaanmu adalah benar.'" Dan ternyata Ibnu Mas'ud mendapatkan bau khamar dari mulut laki-laki itu, maka ia pun langsung berkata, "Apakah kamu akan menggabungkan antara pendustaan atas Allah dan meminum khamar." Setelah itu, ia pun menegakkan hukuman padanya.

Takhrij Hadis:

  1.  Shahih Bukhari, Bab Al-Qira'ah Min Ash-Habi An-Nabi saw, no. 5001.
  2. Musnad Ahmad, Dalam Musnad 'Abdullah Ibnu Mas'ud, no.3591 dan 4033.

Kandungan Hadis:

Hadis ini menceritakan peristiwa yang terjadi di kota Himsh (Homs), ketika Abdullah bin Mas’ud sedang membaca Surah Yusuf di hadapan orang-orang. Seorang laki-laki menegur bacaan beliau dengan berkata, “Bukan begitu cara turunnya (surah ini).” Mendengar itu, Ibn Mas’ud menjawab:

“Aku telah membacanya kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda: ‘Engkau telah membaca dengan baik.’”

Namun, Ibn Mas’ud mencium bau khamr (minuman keras) dari laki-laki tersebut. Maka beliau menegur dengan keras:

“Apakah engkau menggabungkan antara mendustakan Kitab Allah dan meminum khamr?”

Lalu beliau menjatuhkan hukuman had (cambuk) kepada laki-laki itu.

  1. Keutamaan Abdullah bin Mas’ud: Beliau adalah sahabat yang terpercaya dalam bacaan Al-Qur’an dan mendapat pengakuan langsung dari Nabi ﷺ.
  2. Ketegasan terhadap penyimpangan: Ibn Mas’ud tidak membiarkan penyimpangan dalam bacaan Al-Qur’an, apalagi dari orang yang tidak berilmu dan dalam keadaan bermaksiat.
  3. Pentingnya sanad dan otoritas dalam ilmu: Bacaan Al-Qur’an tidak boleh sembarangan dikoreksi kecuali oleh orang yang memiliki ilmu dan sanad yang sahih.
  4. Hukuman terhadap pelaku maksiat: Hadis ini menunjukkan bahwa pelaku maksiat seperti peminum khamr dikenai hukuman had, dan tidak layak mengomentari atau mengingkari bacaan Al-Qur’an.
  5. Adab dalam menanggapi perbedaan bacaan: Jika ada perbedaan qira’at, harus ditanggapi dengan ilmu dan adab, bukan dengan pengingkaran yang sembrono.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...