Jumat, 19 Desember 2025

11. NABI ﷺ DIINGATKAN AYAT YANG TERLUPA SAAT MENDENGAR BACAAN DI MASJID PADA MALAM HARI.

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ آدَمَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَارِئا يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً أَسْقَطْتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Adam, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir, telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata, Pada suatu malam, Nabi mendengar seseorang membaca Al-Qur'an di dalam Masjid, maka beliau pun bersabda, "Semoga Allah merahmatinya, sungguh ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini"

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5042
  2. Shahih Muslim no.788
  3. Sunan Abi Daud no.3970
  4. Musnad Ahmad no. 25069

Kandungan Hadis:

1. Manusia Bisa Lupa Ayat Al-Qur’an
  • Nabi ﷺ mengakui bahwa beliau sempat melupakan sebagian ayat, lalu teringat kembali setelah mendengar bacaan orang lain. Ini menunjukkan bahwa lupa adalah sifat manusiawi, termasuk pada Nabi, tanpa mengurangi kemaksuman beliau dalam menyampaikan wahyu.
2. Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Malam Hari
  • Lelaki yang membaca di malam hari di masjid tidak hanya mendapat pahala, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain, termasuk Nabi ﷺ sendiri.
3. Doa Nabi untuk Pembaca Al-Qur’an
  • Nabi ﷺ mendoakan: "يَرْحَمُهُ اللَّهُ" (semoga Allah merahmatinya)   menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bisa menjadi sebab turunnya rahmat, apalagi jika bermanfaat bagi orang lain.

12. DUA AYAT TERAKHIR SURAH AL-BAQARAH MENCUKUPI PADA MALAM HARI

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَلْقَمَةَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَ بِهِمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami Al A'masy ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim dari 'Alqamah dan Abdurrahman bin Yazid dari Abu Mas'ud Al Anshar ia berkata, Nabi bersabda, "Dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5008
  2. Shahih Muslim no.808
  3. Sunan Abi Daud no.1397
  4. Jami' At-Tirmidzi no.2881
  5. Sunan Ibnu Majah no.1369
  6. Musnad Ad-Darimi no.3431
  7. Musnad Ahmad no.17068

Kandungan Hadis:

1. Keutamaan Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah (Ayat 285–286)
  • Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa siapa yang membacanya di malam hari, maka "كَفَتَاهُ",“akan mencukupinya.”
2. Makna “Kafatahu” (كَفَتَاهُ): Ulama berbeda pendapat:
  • Mencukupi dari qiyamul-lail (shalat malam)  yakni mendapat pahala besar meski tidak shalat panjang.
  • Melindunginya dari gangguan  seperti jin, syaitan, dan musibah.
  •  Mencukupi dalam doa & perlindungan  seakan ia telah berdoa sepanjang malam.
3. Amalan Sunnah Sebelum Tidur
  • Hadis ini jadi dalil anjuran membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah sebelum tidur  sebagai bagian dari wirid malam.

13. LARANGAN MENGATAKAN: AKU LUPA AYAT INI DAN ITU.

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Abu Wa `il dari Abdullah ia berkata, Nabi bersabda, Alangkah celakanya seorang yang mengatakan, 'Aku lupa ayat ini dan ini.'Akan tetapi hendaklah ia mengatakan, 'Aku telah dilupakan."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5032
  2. Shahih Muslim no.790
  3. Jami' At-Tirmidzi no. 2942
  4. Sunan An-Nasa'i no.943
  5. Musnad Ad-Darimi no.2787
  6. Musnad Ahmad no.4085

Kandungan Hadis:

1. Larangan Mengucapkan “Aku Lupa Ayat Ini” dengan Sombong
   - Nabi ﷺ mengecam seseorang yang berkata: "Aku lupa ayat ini dan itu", karena ucapan ini bisa menunjukkan sikap meremehkan atau kurangnya tanggung jawab menjaga Al-Qur'an.
2. Penggunaan Kalimat yang Lebih Sopan: “Aku Diperbuat Lupa”
   - Nabi mengajarkan untuk berkata: "بَلْ هُوَ نُسِّيَ" (melainkan dia dibuat lupa) sebagai bentuk adab dan pengakuan bahwa lupa itu datang dari Allah sebagai ujian atau takdir.
3. Adab terhadap Al-Qur’an
   - Hadis ini menekankan pentingnya sikap hormat dan kehati-hatian dalam berbicara tentang Al-Qur’an, termasuk saat mengalami kelupaan.
4. Tanggung Jawab Hafizh untuk Menjaga Hafalan
   - Meski lupa adalah sifat manusiawi, orang yang telah menghafal Al-Qur’an dianjurkan terus muroja‘ah (mengulang hafalan), agar tidak sampai "dibuat lupa".

14. NABI ﷺ DI BERI INGAT KEMBALI AYAT YANG TERLUPA SAAT MENDENGAR BACAAN SEORANG LELAKI DI MALAM HARI

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Raja`, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah ia berkakta; Rasulullah pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda, "Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5038
  2. Shahih Muslim no.788
  3. Sunan Abi Daud no.1331
  4. Musnad Ahmad no.25069

Kandungan Hadis:

  • Manusia Bisa Lupa Hafalan Al-Qur'an
  • Nabi ﷺ menyatakan bahwa beliau sempat lupa ayat-ayat tertentu, lalu teringat kembali karena mendengar orang lain membacanya. Ini menunjukkan bahwa lupa adalah sesuatu yang bisa .
  •  Hadis ini juga menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an secara terbuka atau terdengar bisa memberi manfaat kepada orang lain  termasuk sebagai pengingat hafalan.

15. IBNU 'ABBAS MENGHAFAL AL-MUHKAM SEBELUM WAFATNYA NABI ﷺ

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُفَصَّلَ هُوَ الْمُحْكَمُ قَالَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ وَقَدْ قَرَأْتُ الْمُحْكَمَ

Telah menceritakan kepadaku Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair ia berkata, "Sesungguhnya, surat-surat yang kalian anggap Al Mufashshal itulah Al Muhkam." Ibnu Abbas juga berkata, "Rasulullah wafat, sementara aku baru menginjak usia sepuluh tahun. Dan sungguh, aku telah membaca Al Muhkam.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5036
  2. Musnad Ahmad no.2283

Kandungan Hadis:

1. Istilah al-Muḥkam dan al-Mufaṣṣal
  • Sa‘īd bin Jubayr menjelaskan bahwa al-Mufaṣṣal, yaitu surah-surah pendek dari Qāf hingga An-Nās, disebut juga al-Muḥkam, karena ayat-ayatnya jelas dan kuat dalam makna serta hukum.
2. Kecerdasan Ibnu ‘Abbas
  • Ibnu ‘Abbas berkata: "Rasulullah ﷺ wafat saat aku berusia 10 tahun dan aku telah membaca al-Muḥkam", menandakan dia sudah hafal sebagian besar Al-Qur’an (minimal dari Qāf ke An-Nās) sejak kecil.
3. Pentingnya Mengajarkan Al-Qur’an Sejak Dini
  •  Hadis ini menjadi dalil bahwa anak-anak sejak kecil sudah bisa mulai menghafal dan memahami Al-Qur’an.
4. Kebiasaan Sahabat Menggunakan Istilah Beragam

16. NABI MEMBACA SURAH AL-FATH SAAT PENAKLUKAN MaKKAH DI ATAS KENDARAANNYA

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو إِيَاسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Iyas ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, "Aku pernah melihat Rasulullahpada hari Fathu Makkah, dan saat itu, beliau sedang membaca surah Al Fath di atas kendaraannya.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5034
  2. Shahih Muslim no.794
  3. Sunan Abi Daud no.1467
  4. Musnad Ahmad no.20558

Kandungan Hadis:

1. Keutamaan Surah al-Fath
  • Nabi ﷺ membaca Surah al-Fath saat momen besar: Fath Makkah (Penaklukan Makkah).
  • Ini menunjukkan bahwa surah tersebut berkaitan erat dengan kemenangan dan pertolongan Allah.
2. Tawadhu' Rasulullah ﷺ
  • Beliau membaca Al-Qur'an dengan tenang di atas tunggangannya, bukan dengan takbir kemenangan yang berlebihan, menunjukkan ketawadhu’an.
3. Disyariatkannya Membaca Al-Qur'an saat Safar
  • Nabi membaca surah di atas kendaraan saat dalam perjalanan, menandakan bolehnya membaca Al-Qur’an tanpa harus dalam keadaan duduk formal.
4. Kaitan Surah al-Fath dengan Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
  • Surah ini berisi kabar gembira atas kemenangan damai yang diraih tanpa peperangan besar.

17. PERUMPAMAAN PEMILIK Al-QUR'AN SEPERTI PEMILIK UNTA YANG TERIKAT

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

Telah menceritakan kepada kami Abudllah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan para penghafal Al-Qur'an adalah seperti seorang yang memiliki Utna yang terikat, jika ia selalu menjaganya, maka ia pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya akan hilang dan pergi."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5031
  2. Shahih Muslim no.789
  3. Sunan An-Nasa'i no.942
  4. Sunan Ibnu Majah no.3783
  5. Muwatha Malik no.541
  6. Musnad Ahmad no.4665

Kandungan hadis:

1. Perumpamaan yang Kuat 
  • Rasulullah ﷺ menggambarkan pemilik Al-Qur’an seperti pemilik unta yang diikat: jika ia menjaganya dengan baik, maka unta itu tetap bersamanya; jika ia melepaskannya, maka unta itu akan lari dan hilang.
  • Ini adalah perumpamaan yang sangat hidup dan mudah dipahami, terutama oleh masyarakat Arab yang akrab dengan unta.
2. Pentingnya Muraja’ah (Mengulang Hafalan)
  • Hadis ini menekankan bahwa menghafal Al-Qur’an saja tidak cukup. Diperlukan komitmen untuk terus mengulang dan menjaganya agar tidak hilang dari ingatan.
3. Al-Qur’an Mudah Lupa Jika Tidak Dijaga
  • Seperti unta yang cepat lepas jika tidak diikat, hafalan Al-Qur’an pun mudah hilang jika tidak dijaga dengan muraja’ah rutin.
4. Tanggung Jawab Pemilik Ilmu
  • Orang yang telah diberi nikmat menghafal Al-Qur’an memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
5. Dorongan untuk Konsistensi
  • Hadis ini mengajarkan pentingnya istiqamah (konsistensi) dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, bukan hanya semangat sesaat.
6. Nilai Spiritual dan Praktis
  • Selain nilai spiritual, hadis ini juga mengandung pelajaran praktis tentang bagaimana menjaga sesuatu yang berharga: dengan komitmen, perhatian, dan usaha terus-menerus.


18. KEUTAMAAN MEMPELAJARI DAN MENGAJARKAN AL-QUR'AN

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Alqamah bin Martsad Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian  seorang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Abu Abdirrahman membacakan (Al-Qur'an) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, "Dan hal itulah yang menjadikanku duduk di tempat dudukku ini."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5027
  2. Sunan Abi Daud no.1452
  3. Jami' At-Tirmidzi no.2907
  4. Sunan Ibnu Majah no.211
  5. Musnad Ad-Darimi
  6. Musnad Ahmad no.405
  • Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
  • Ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi dalam umat Islam adalah bagi mereka yang berinteraksi aktif dengan Al-Qur’an, baik sebagai pelajar maupun pengajar.
  • Abu Abdurrahman As-Sulami, perawi hadis ini, menyampaikan bahwa ia mengajarkan Al-Qur’an sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan hingga masa Al-Hajjaj, sebagai bentuk pengamalan langsung dari sabda Nabi ﷺ.
  • Ini menunjukkan kesungguhan dan konsistensi dalam mengajarkan Al-Qur’an sebagai bentuk ibadah dan dakwah.

Kandungan Hadis:

1. Orang Terbaik di Antara Umat

2. Keutamaan Mengajarkan Al-Qur’an

3. Motivasi Berdakwah dan Mengajar

Kalimat "Itulah yang membuatku duduk di tempat ini" menunjukkan bahwa hadis Nabi menjadi motivasi utama bagi para ulama untuk mengabdikan diri dalam mengajarkan Al-Qur’an.

4. Pentingnya Rantai Ilmu (Sanad)

Hadis ini juga memperlihatkan rantai transmisi ilmu (sanad) yang kuat dari Nabi ﷺ hingga para tabi’in, menunjukkan pentingnya keaslian dan kesinambungan ilmu dalam Islam.

5. Al-Qur’an sebagai Poros Kehidupan

Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipelajari, diajarkan, dan diamalkan, menjadikannya pusat kehidupan seorang Muslim.



19.KEUTAMAAN IRI YANG DIBENARKAN( HASAD YANG TERPUJI)

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri ia berkata, telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah bahwasanya; Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, "Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu: Seorang yang diberi karunia Al-Qur'an oleh Allah sehingga ia membacanya (salat dengannya) di pertengahan malam dan siang. Dan seseorang yang diberi karunia harta oleh, sehingga ia menginfakkannya pada malam dan siang hari."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.73,1409.5025,5026,7141 dan 7529.
  2. Shahih Muslim no.815.
  3. Sunan Ibnu Majah no.4208 dan 4209.
  4. Musnad Ahmad no.4109,4550,4924 dan 5618.
  5. Jami' At-Tirmidzi no.1936

Kandungan Hadis:

1. Hasad yang Diperbolehkan (Ghibṭah)

    Hadis ini menjelaskan bahwa iri hati (hasad) yang dibolehkan adalah ghibṭah, yaitu keinginan untuk mendapatkan nikmat seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang dari mereka.

2. Dua Golongan yang Patut Diteladani

  • Pertama: Orang yang diberi ilmu (Al-Qur’an) dan mengamalkannya, terutama dengan membacanya di malam hari.
  • Kedua: Orang yang diberi kekayaan dan menginfakkannya siang dan malam di jalan Allah.

3. Keutamaan Ilmu dan Amal

Orang yang mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, terutama dengan qiyamul lail (shalat malam), mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.

4. Keutamaan Sedekah

Orang yang dermawan dan konsisten bersedekah siang dan malam menunjukkan keikhlasan dan ketekunan dalam beramal.

5. Dorongan untuk Meneladani Kebaikan

Hadis ini mendorong umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan dalam urusan duniawi semata.

6. Pentingnya Amal yang Konsisten

Menekankan pentingnya amal yang terus-menerus (kontinu), baik dalam ibadah maupun dalam sedekah.




Selasa, 16 Desember 2025

20. KEINDAHAN MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN SUARA MERDU


Redaksi hadis

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْذَنْ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ وَقَالَ صَاحِبٌ لَهُ يُرِيدُ يَجْهَرُ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa ia berkata, Rasulullah bersabda, "Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu pun kepada Nabi sebagaimana izin-Nya untuk melagukan Al-Qur'an." Salah seorang sahabatnya berkata, Maksudnya adalah melagukannya dengan suara yang keras.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Man lam Yataghanna bi Al-Qur'an, no.5023.
  2. Shahih Muslim, Bab Istihbab Tahsiinu Ash-Shaut Bi Al-Qur'an, no.792.
  3. Sunan Abi Daud, Bab Istihbab At-Tartil fii Al-Qira'ah, no.1473.
  4. Sunan An-Nasa'i, Bab Tajyiin Al-Qur'an bi Ash-Shaut, no.1017 dan 1018.
  5. Musnad Ad-Darimi, Bab At-Taghanii bi Al-Qur'an, no.1529,1532,3533,3534 dan 3540.
  6. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Ahmad, no.7670,7832 dan 9505.

Kandungan Hadis:

  1. Taghannī bil-Qur’an: Kata taghannī berarti membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan. Ini bukan bernyanyi dalam arti musik, tetapi memperindah bacaan sesuai dengan adab dan tajwid.
  2. Mengeraskan suara dalam bacaan: Sahabat menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca dengan suara yang terdengar, bukan sekadar dalam hati, agar bisa dinikmati dan direnungkan.
  3. Allah mencintai bacaan yang indah: Hadis ini menunjukkan bahwa Allah sangat menyukai bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang indah dan penuh penghayatan.
  4. Pengaruh spiritual: Bacaan yang merdu dapat menyentuh hati, menenangkan jiwa, dan menguatkan iman, baik bagi pembaca maupun pendengarnya.
  5. Dorongan untuk memperbaiki bacaan: Hadis ini mendorong umat Islam untuk belajar tajwid dan memperindah bacaan Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan terhadap wahyu Allah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan menunjukkan pentingnya seni membaca Al-Qur’an dengan penuh rasa dan keindahan, bukan sekadar melafalkan huruf.


21.WASIYAT NABI SAW: BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR'AN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى آوْصَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا فَقُلْتُ كَيْفَ كُتِبَ عَلَى النَّاسِ الْوَصِيَّةُ أُمِرُوا بِهَا وَلَمْ يُوصِ قَالَ أَوْصَى بِكِتَابِ اللَّهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal, telah menceritakan kepada kami Thalhah ia berkata, Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa, "Apakah Nabi pernah berwasiat?" Ia menjawab, "Tidak." Aku berkata, "Lalu bagaimana wasiat itu diwajibkan atas orang-orang untuk menunaikannya sementara beliau tidaklah berwasiat?" Ia menjawab, "Beliau telah berwasiat dengan kitabullah."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Al-Wushah bi Kitabillah 'Ajja wa Jalla, no.5022.
  2. Shahih Muslim, Bab Tarku Al-Washiyyatu liman Laisa Lahu Sya'i, no.1634.
  3. Jami' At-Tirmidzi, Bab Anna Al-Nabiya lam Yusha, no.2119.
  4. Sunan An-Nasa'i, Bab Hal Awshaa  An-Nabi saw, no.3620.
  5. Sunan Ibnu Majah, Bab Hal Awsha Rasulullah saw, no.2696.
  6. Musnad Ad-Darimi, Bab Man lam Yusha, no.3224.
  7. Musnad Ahmad,  Bab Baqiyatu Hadis 'Abdullah bin Abi Aufa 'An An-Nabi Saw, no.19123,19136 dan 19408.

Kandungan Hadis:

  1. Kitabullah sebagai wasiat terbesar: Nabi ﷺ tidak meninggalkan wasiat dalam bentuk harta atau pesan pribadi, tetapi mewariskan Al-Qur'an sebagai pedoman utama bagi umatnya.
  2. Makna wasiat dalam Islam: Meskipun umat Islam dianjurkan untuk membuat wasiat harta, wasiat Nabi ﷺ bersifat lebih agung dan universal,  yaitu agar umatnya berpegang teguh pada wahyu Allah.
  3. Petunjuk hidup: Wasiat Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama petunjuk, hukum, dan nilai-nilai dalam kehidupan seorang Muslim.
  4. Penegasan terhadap pentingnya Al-Qur'an: Dalam berbagai riwayat lain, Nabi ﷺ juga menekankan agar umatnya tidak tersesat selama mereka berpegang pada Kitabullah dan Sunnah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan menunjukkan bahwa warisan terbesar Nabi ﷺ bukanlah materi, melainkan wahyu dan ilmu.




22. PERUMPAMAAN ORANG YANG MEMBACA DAN TIDAK MEMBACA AL-QUR'AN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ أَبُو خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلَا رِيحَ لَهَا

Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Abu Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dari Abu Musa Al Asy'ari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya juga sedap. Sedang orang yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah kurma, rasanya manis, namun baunya tidak ada. Adapun orang Fajir yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang Fajir yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Fadlu Al-Q'ur'an  'Alaa Saa'ir Al-Kalam, no.5020.
  2. Shahih Muslim, Bab Fadiilah Haafidz Al-Qur'an, no.797.
  3. Sunan Abi Daud, Bab  Man Yu'amir an Yujaalis, no.4829.
  4. Jami' At-Tirmidzi, Bab Matsalu Al-Mu'minu Al-Qari' Lil Qur'an Wa Ghairu Al-Qari', no.2865.
  5. Sunan An-Nasa'i , Bab Matsalul ladzi  yaqra'u' Al-Qur'an Min Mu'min Wa Munaafiq, no.5038.
  6. Sunan Ibnu Majah, Bab Fadlu Man Ta'allama Al-Qur'an Wa 'Allamahu, no.214.
  7. Musnad Ad-Daarimi, Bab Matsalu Al-Mu'minul ladzi Yakra'u Al-Qur'an, no.3406.
  8. Musnad Ahmad, Dalam hadis Abi Musa Al-Asy'ari, no.19664.

Kandungan Hadis:

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ memberikan empat perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna untuk menggambarkan kondisi manusia dalam hubungannya dengan Al-Qur'an dan akhlaknya:

1. Orang Mukmin yang Membaca Al-Qur'an:

 Seperti buah utrujjah (jeruk):

  •    Rasanya enak
  •     Aromanya harum

 Makna: Orang beriman yang membaca Al-Qur'an memiliki batin yang baik (iman) dan lahir yang indah (bacaan Al-Qur'an yang memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain).

2. Orang Mukmin yang Tidak Membaca Al-Qur'an:

   Seperti buah tamr (kurma):

  •      Rasanya enak
  •      Tidak beraroma

 Makna: Ia tetap memiliki iman yang baik, namun tidak menyebarkan manfaat bacaan Al-Qur'an kepada orang lain karena tidak membacanya.

3. Orang Fajir (pendosa) yang Membaca Al-Qur'an:

    Seperti raihanah (sejenis tanaman harum):

  •      Aromanya harum
  •      Rasanya pahit

 Makna: Meskipun ia membaca Al-Qur'an dan bisa memberi manfaat lahiriah (seperti suara yang indah), namun batinnya rusak karena kefasikannya.

4. Orang Fajir yang Tidak Membaca Al-Qur'an:

   Seperti hanzhalah (buah pahit):

  •      Rasanya pahit
  •      Tidak beraroma

 Makna: Tidak ada kebaikan lahir maupun batin darinya; tidak membaca Al-Qur'an dan juga tidak memiliki iman yang baik.

Pelajaran Penting dari Hadis Ini:

  1. Keutamaan membaca Al-Qur'an bagi orang beriman: Membaca Al-Qur'an memperindah iman dan menjadikan seseorang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
  2. Perumpamaan yang mendalam: Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan buah-buahan untuk menggambarkan kondisi spiritual dan sosial seseorang.
  3. Pentingnya keselarasan antara iman dan amal: Tidak cukup hanya membaca Al-Qur'an, tetapi juga harus disertai dengan keimanan dan akhlak yang baik.
  4. Refleksi diri: Hadis ini mengajak kita untuk menilai diri, termasuk dalam kategori manakah kita berada, dan berusaha menjadi seperti utrujjah.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan Imam Muslim, dan termasuk dalam kategori muttafaq ‘alayh, yang menunjukkan tingkat keautentikannya yang sangat tinggi.



Senin, 15 Desember 2025

23.DZIKIR SEBELUM TIDUR: MEMBACA AL-MU'AWWIDZAT DAN MENGUSAPKANNYA KE TUBUH


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Al Mufadldlal bin Fadlalah dari Uqail dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwa biasa Nabi bila hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membacakan, "QULHUWALLAHU AHAD.." dan, "QUL `A'UUDZU BIRABBIL FALAQ…" serta, "QUL `A'UUDZU BIRABBIN NAAS.." Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah dan pada anggota yang dapat dijangkaunya. Hal itu, beliau ulangi sebanyak tiga kali.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Dalam Bab Fadlu Al-Mu'awwidzat, no.5017.
  2. Sunan Abi Daud, Bab Maa Yaquulu 'Inda Al-Naum, no.5056.
  3. Jami' at-Tirmidzi, Bab Man Yaqra' Al-Qur'an 'inda Al-Manam, no.3402.
  4. Sunan Ibnu Majah, Bab Maa Yad'uhu Bihi Idza Awaa Ilaa firaasyihi, no.3875.
  5. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Al-Shadiiqah 'Aisyah Binti Al-Shiddiq Ra., no.24853 dan 25208.

Kandungan Hadis:

Hadis ini diriwayatkan dari Sayyidah ‘Ā’isyah radhiyallāhu ‘anhā, yang menceritakan kebiasaan Rasulullah ﷺ sebelum tidur setiap malam:Beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, Lalu meniup ke dalamnya setelah membaca tiga surah:

  • Surah al-Ikhlāṣ (Qul Huwa Allāhu Aḥad)
  •  Surah al-Falaq (Qul A‘ūdhu bi-Rabbi al-Falaq)
  •  Surah an-Nās (Qul A‘ūdhu bi-Rabbi an-Nās)
  • Setelah itu, beliau mengusapkan kedua tangannya ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuh.
  • Beliau mengulangi hal ini tiga kali setiap malam.

Pelajaran dan Hikmah Hadis:

  1. Sunnah sebelum tidur: Hadis ini mengajarkan amalan yang sangat dianjurkan sebelum tidur, yaitu membaca tiga surah terakhir dalam Al-Qur’an (al-Mu’awwidzāt) dan mengusapkannya ke tubuh.
  2. Perlindungan dari gangguan: Bacaan ini berfungsi sebagai ruqyah dan perlindungan dari segala keburukan, baik yang tampak maupun yang gaib.
  3. Makna meniup (nafth): Nafth adalah tiupan ringan yang disertai sedikit ludah, bukan meludah penuh. Ini menunjukkan adab dalam melakukan ruqyah.
  4. Keberkahan sentuhan: Rasulullah ﷺ mengusapkan bacaan tersebut dengan tangannya sendiri, menunjukkan pentingnya sentuhan dalam ruqyah diri.
  5. Pengulangan tiga kali: Ini menunjukkan bahwa pengulangan dalam dzikir dan ruqyah memiliki keutamaan dan pengaruh spiritual yang lebih kuat.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan termasuk dalam kumpulan hadis shahih. Ia menjadi dasar penting dalam amalan dzikir malam dan perlindungan diri sebelum tidur.


24.NABI ﷺ MEMBACA Al-MU'AWWIDZAT KETIKA SAKIT


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُتُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah radhiallahu'anha, bahwasanya Rasulullah dahulu bila sedang menderita kesakitan, beliau membacakan dirinya dengan 'AL MU'AWWIDZAAT' (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), lalu beliau meniupkannya. Hanya saja di masa sakit parahnya, akulah yang membacakannya untuk beliau, lalu kuusapkan dengan tangannya guna mengharap keberkahan."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Fadhlu Bil Mu'awwidzat no.5016,4449,5735, dan 5751.
  2. Shahih Muslim, Bab Ruqyah Al-Maridh Bil Mu'awwidzat Wa Al-Nufuts, no.2192
  3. Sunan Abi Daud, Bab Kaifa Al-Raqaa, no.3902.
  4. Sunan Ibnu Majah, Bab Al-Nufuts Fii Al-Ruqyah, no.3528 dan 3529.
  5. Muwatha' malik , Dalam Kitab Al-Jami'- Al-Ta'ud Wa Ruqyah Fii Al-Mardi, no.2716.
  6. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Al-Shiddiqah 'Aisyah Binti Al-Shiddiq ra., no.25335.

Kandungan Hadis:

  1. Keutamaan al-Mu’awwidzāt: Surah al-Ikhlāṣ, al-Falaq, dan an-Nās memiliki keutamaan sebagai doa perlindungan dari keburukan dan penyakit.
  2. Tindakan ruqyah syar’iyyah: Nabi ﷺ melakukan ruqyah dengan membaca dan meniupkan bacaan ke tubuhnya sendiri, menunjukkan bahwa ini adalah sunnah yang dianjurkan.
  3. Keberkahan tangan Nabi ﷺ: ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā menggunakan tangan Nabi untuk mengusap tubuh beliau karena mengharapkan keberkahan dari tangan beliau yang mulia.
  4. Kasih sayang dan perhatian istri: Hadis ini juga menunjukkan kasih sayang dan perhatian ‘Aisyah terhadap Nabi ﷺ di masa sakit beliau.



25.TURUNNYA SAKINAH (KETENANGAN) KARENA BACAAN Al-QUR'AN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Al Barra` bin 'Aazib ia berkata, Seorang laki-laki membaca surah Al-Kahfi, sementara di sisinya terdapat seekor kuda yang terikat dengan dua tali, ternyata di atasnya terdapat kabut yang menaunginya. Kabut itu mendekat dan semakin mendekat sehingga membuat kudanya lari ingin beranjak. Ketika waktu pagi datang, laki-laki itu pun mendatangi Nabi dan menuturkan kejadian yang dialaminya, Nabi bersabda, "Itu adalah As Sakinah (ketenangan) yang turun karena Al-Qur'an.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab fadhlu surah Al-Kahfi, no.5011.
  2. Shahih Muslim, Bab Nuzuulu Al-Sakinah Liqira'ati Al-Qur'an, no.795.
  3. Jami' At-Tirmidzi, Bab Maa Ja'a Fii Fadhli Suurati Al-Kahfi, no.2885.
  4. Musnad Ahmad, Dalam Awwalu Musnad Al-Kuufain, no.18509,18591. dan 18637.

Kandungan Hadis:

  1. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu, dan menceritakan tentang seorang laki-laki yang membaca Surah al-Kahfi di malam hari. Di sampingnya terdapat seekor kuda yang terikat. Ketika ia membaca, turunlah awan yang mendekat dan membuat kudanya gelisah. Keesokan harinya, ia menceritakan hal itu kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan beliau bersabda:"Itulah sakinah (ketenangan) yang turun karena bacaan Al-Qur'an."
  2. Keutamaan membaca Al-Qur'an: Hadis ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an, khususnya Surah al-Kahfi, mendatangkan ketenangan dan keberkahan dari Allah.
  3. Turunnya sakinah: Sakinah adalah ketenangan yang berasal dari Allah. Dalam konteks ini, ia turun dalam bentuk awan yang mendekat sebagai tanda kehadiran rahmat Allah.
  4. Reaksi makhluk terhadap fenomena gaib: Kuda yang terikat menjadi gelisah karena merasakan kehadiran sesuatu yang luar biasa, yaitu sakinah yang turun.
  5. Mukjizat dan keajaiban Al-Qur'an: Hadis ini memperlihatkan bahwa Al-Qur'an bukan hanya bacaan biasa, tetapi memiliki pengaruh spiritual yang nyata di alam semesta.
  6. Anjuran untuk merenungi bacaan Al-Qur'an: Membaca Al-Qur'an dengan hati yang khusyuk dan penuh penghayatan bisa menjadi sebab turunnya rahmat dan ketenangan.




Sabtu, 13 Desember 2025

26. EMPAT SAHABAT YANG MENGHIMPUN Al-QUR'AN PADA MASA WAFATNYA NABI ﷺ


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنِي ثَابِتُ الْبُنَانِيُّ وَثُمَامَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَجْمَعُ الْقُرْآنَ غَيْرُ أَرْبَعَةِ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ قَالَ وَنَحْنُ وَرِثْنَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna ia berkata, telah menceritakan kepadaku Tsabit Al Bunani dan Tsumamah dari Anas bin Malik ia berkata, Nabi wafat, sementara beliau belum mengumpulkan Al-Qur'an kecuali oleh empat orang, yaitu Abu Darda, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. la berkata, Dan kami akan mewarisinya.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Al-Qur'an Min Ash-Habi Al-Nabi Saw., no.5004.
  2. Shahih Muslim, Bab Min Fadhaaili Abi Ibnu Ka'ab, no.2465.
  3. Jami' At-Tirmidzi, Bab Manaakib Mu'adz Ibnu Jabal,Wazaid Ibnu Tsabit, Wa Abi 'Ubaidah Ibnu Al-Jaraah, no.3794.
  4. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Anas Bin Malik Ra., no.13441 dan 13942.

Kandungan Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik melalui jalur periwayatan yang sahih, dan menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ wafat, hanya empat orang sahabat yang telah menghimpun (menghafal dan mengumpulkan) Al-Qur'an secara lengkap, yaitu:

  • Abu Darda'
  • Mu’adz bin Jabal
  • Zaid bin Tsabit
  • Abu Zaid

Anas bin Malik menambahkan, “ Dan kami mewarisinya,” yang menunjukkan bahwa para sahabat lain kemudian juga mempelajari dan menghimpun Al-Qur’an setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Makna dan Hikmah:

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa pada masa wafatnya Nabi ﷺ, belum banyak sahabat yang menghimpun Al-Qur’an secara lengkap dalam hafalan.
  2. Ini menjadi salah satu dalil pentingnya kodifikasi Al-Qur’an yang kemudian dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar dan disempurnakan pada masa Utsman bin Affan.
  3. Menunjukkan keutamaan para sahabat yang disebutkan dalam hadis ini sebagai penghafal Al-Qur’an.
  4. Frasa “ kami mewarisinya” menunjukkan kelanjutan tradisi ilmu dan hafalan Al-Qur’an di kalangan generasi sahabat dan tabi’in.



Jumat, 12 Desember 2025

27. EMPAT SAHABAT ANSHAR YANG MENGHIPUN Al-QUR'ANﷺ


Redaksi Hadis


حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ تَابَعَهُ الْفَضْلُ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah ia berkata, Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu'anhu, "Siapakah yang mengumpulkan Al-Qur'an pada masa Nabi ﷺ?" ia menjawab, "Ada empat orang dan semuanya dari kaum Anshar. Yaitu, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid." Hadits ini diperkuat oleh Al Fadllu dari Husain bin Waqid dari Tsumamah dari Anas.


Takhrij Hadis: 
  1. Shahih Bukhari, Dalam Bab  Al-Qira'ah Min Ash-Habi Al-Nabi saw, no.5003.
  2. Shahih Muslim, Bab Fadhail Abi Ibnu Ka'ab, no.2465.
  3. Jami' At-Tirmidzi, Bab Manaaqib Mu'adz Ibnu Jabal, wa Zaid Ibnu Tsabit, Wa Abi 'Ubaidah Ibnu Jaraah, no.3794.
  4. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Anas Ibnu Malik Ra, no.13441 dan 13942.
Kandungan Hadis:

Dalam hadis ini, Qatadah meriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Anas bin Malik رضي الله عنه: "Siapa saja yang menghimpun (menghafal) Al-Qur'an pada masa Rasulullah ﷺ?"
Anas menjawab:
"Empat orang, semuanya dari kalangan Anshar ;Ubay bin Ka'ab,Mu'adz bin Jabal,Zaid bin Tsabit, Abu Zaid"

Hadis ini juga dikuatkan oleh riwayat Al-Fadl dari Husain bin Waqid dari Tsummamah dari Anas.
  1. Keutamaan para penghafal Al-Qur'an: Hadis ini menunjukkan bahwa pada masa Nabi ﷺ, ada sahabat-sahabat yang telah menghimpun Al-Qur'an secara lengkap, baik dengan hafalan maupun tulisan.
  2. Peran kaum Anshar: Keempat sahabat yang disebutkan semuanya berasal dari kalangan Anshar (penduduk asli Madinah), menunjukkan kontribusi besar mereka dalam menjaga wahyu.
  3.  Pentingnya sanad dan periwayatan: Hadis ini menunjukkan metode periwayatan yang kuat dan berlapis, serta pentingnya bertanya kepada sahabat yang terpercaya seperti Anas bin Malik.
  4. Siapa itu Abu Zaid? Para ulama berbeda pendapat tentang identitas Abu Zaid. Sebagian menyebutkan bahwa beliau adalah Qais bin Sa'd bin Ubadah atau Sa'id bin Ubayd, namun tidak ada kesepakatan pasti.
  5.  Motivasi untuk menghafal Al-Qur'an: Hadis ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk meneladani para sahabat dalam menjaga dan menghafal Al-Qur'an.

28. KETEGASAN ABDULLAH BN MAS'UD TERHADAP PENGINGKAR BACAAN AL-QUR'AN DAN PELAKU KEMAKSIATAN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنَّا بِحِمْصَ فَقَرَأَ ابْنُ مَسْعُودٍ سُورَةَ يُوسُفَ فَقَالَ رَجُلٌ مَا هَكَذَا أُنْزِلَتْ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحْسَنْتَ وَوَجَدَ مِنْهُ رِيحَ الْخَمْرِ فَقَالَ أَتَجْمَعُ أَنْ تُكَذِّبَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَتَشْرَبَ الْخَمْرَ فَضَرَبَهُ الْحَدَّ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah ia berkata, Suatu ketika, kami berada di Himsh, lalu Ibnu Mas'ud membaca surat Yusuf. Kemudian seorang laki-laki berkata, "Bacaan surat ini diturunkan tidaklah seperti itu." Ibnu Mas'ud berkata, "Aku telah membacanya di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, 'Bacaanmu adalah benar.'" Dan ternyata Ibnu Mas'ud mendapatkan bau khamar dari mulut laki-laki itu, maka ia pun langsung berkata, "Apakah kamu akan menggabungkan antara pendustaan atas Allah dan meminum khamar." Setelah itu, ia pun menegakkan hukuman padanya.

Takhrij Hadis:

  1.  Shahih Bukhari, Bab Al-Qira'ah Min Ash-Habi An-Nabi saw, no. 5001.
  2. Musnad Ahmad, Dalam Musnad 'Abdullah Ibnu Mas'ud, no.3591 dan 4033.

Kandungan Hadis:

Hadis ini menceritakan peristiwa yang terjadi di kota Himsh (Homs), ketika Abdullah bin Mas’ud sedang membaca Surah Yusuf di hadapan orang-orang. Seorang laki-laki menegur bacaan beliau dengan berkata, “Bukan begitu cara turunnya (surah ini).” Mendengar itu, Ibn Mas’ud menjawab:

“Aku telah membacanya kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda: ‘Engkau telah membaca dengan baik.’”

Namun, Ibn Mas’ud mencium bau khamr (minuman keras) dari laki-laki tersebut. Maka beliau menegur dengan keras:

“Apakah engkau menggabungkan antara mendustakan Kitab Allah dan meminum khamr?”

Lalu beliau menjatuhkan hukuman had (cambuk) kepada laki-laki itu.

  1. Keutamaan Abdullah bin Mas’ud: Beliau adalah sahabat yang terpercaya dalam bacaan Al-Qur’an dan mendapat pengakuan langsung dari Nabi ﷺ.
  2. Ketegasan terhadap penyimpangan: Ibn Mas’ud tidak membiarkan penyimpangan dalam bacaan Al-Qur’an, apalagi dari orang yang tidak berilmu dan dalam keadaan bermaksiat.
  3. Pentingnya sanad dan otoritas dalam ilmu: Bacaan Al-Qur’an tidak boleh sembarangan dikoreksi kecuali oleh orang yang memiliki ilmu dan sanad yang sahih.
  4. Hukuman terhadap pelaku maksiat: Hadis ini menunjukkan bahwa pelaku maksiat seperti peminum khamr dikenai hukuman had, dan tidak layak mengomentari atau mengingkari bacaan Al-Qur’an.
  5. Adab dalam menanggapi perbedaan bacaan: Jika ada perbedaan qira’at, harus ditanggapi dengan ilmu dan adab, bukan dengan pengingkaran yang sembrono.


29.ANJURAN NABI UNTUK MEMPELAJARI Al-QUR'AN DARI EMPAT SAHABAT

 

Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مَسْرُوقٍ ذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ فَقَالَ لَا أَزَالُ أُحِبُّهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Amru dari Ibrahim dari Masruq bahwasanya; Abdullah bin Amru menyebut Abdullah bin Mas'ud seraya berkata, "Aku senantiasa mencintainya. Aku mendengar Nabi bersabda, 'Ambillah Al-Qur'an itu dari empat orang. Yaitu dari, Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab.'

Takhrij Hadis:
  1. Shahih  Bukhari, Bab Al-Qira'ah Min Ash-habi An-Nabiyi saw., no.4999.
  2. Shahih Muslim, Bab Min Fadhail  'Abdullah Bin Mas'ud, wa Ummuhu ra, no.2464.
  3. Jami' At-aTirmidzi, Bab Manaaqib Abdullah bin Mas'ud ra, no.3810
  4. Musnad Ahmad, Dalam Musnad 'Abdullah Ibnu Umar, no.6767.
Kandungan Hadis:
  1.  Keutamaan para sahabat tertentu dalam ilmu Al-Qur'an: Nabi Muhammad ﷺ secara khusus menyebut empat sahabat yang memiliki keahlian luar biasa dalam membaca dan memahami Al-Qur'an.
  2. Abdullah bin Mas’ud: Seorang sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Nabi dan memiliki pemahaman mendalam tentang Al-Qur'an. Ia termasuk yang pertama masuk Islam dan belajar langsung dari Nabi.
  3.  Salim maula Abu Hudzaifah: Seorang sahabat yang merdeka dari perbudakan dan dikenal sebagai penghafal Al-Qur'an yang terpercaya.
  4. Mu’adz bin Jabal: Sahabat yang dikenal karena keluasan ilmunya, terutama dalam bidang halal dan haram.
  5.  Ubay bin Ka’ab: Salah satu penulis wahyu dan dikenal sebagai salah satu qari (pembaca Al-Qur'an) terbaik di kalangan sahabat.
  6. Anjuran untuk belajar dari ahli: Hadis ini menunjukkan pentingnya belajar dari orang yang ahli dan terpercaya dalam bidangnya, khususnya dalam ilmu agama.


1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...