Selasa, 09 Desember 2025

30. TANDA-TANDA MENJELANG WAFAT NABI ﷺ: MUDARASAH AL-QUR'AN DAN I'TIKAF DUA PULUH HARI


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِي الْعَام الَّذِي قُبِضَ فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari Abu Hushain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata, "Biasa Jibril mengecek bacaan Al-Qur'an Nabi sekali pada setiap tahunnya. Namun pada tahun wafatnya Rasulullah ﷺ, Jibril melakukannya dua kali. Dan beliau Rasulullah beriktikaf sepuluh hari pada setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun wafatnya, beliau beriktikaf selama dua puluh hari."

Takhrij Hadis:
  1. Shahih Bukhari, Bab Kaana Jibril Ya'ridhu Al-Qur'an 'Alaa Nabi, juz 6, no.4998, hal.186.
  2. Sunan Abi Daud, Bab Aina Yakuunu Al-I'tikaf, no.2466.
  3. Sunan Ibnu Majah, Bab Maa Ja'a fii Al-I'tikaf, no.1769.
  4. Musnad Ad-Darimi, Bab I'tikafu An-Nabi saw, no.1820.
  5. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Abi Hurairah R.a, no.8435,8662,9190 dan 9212.

Kandungan Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, dan mengandung informasi penting tentang kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ di bulan Ramadan, khususnya pada tahun terakhir sebelum wafatnya. 

  1. Mudarasah Al-Qur’an Tahunan: Setiap tahun, Nabi ﷺ memperdengarkan (menyimak dan mengulang) Al-Qur’an kepada Malaikat Jibril sekali dalam bulan Ramadan.
  2. Peristiwa Istimewa di Tahun Wafatnya: Pada tahun wafatnya, Nabi ﷺ memperdengarkan Al-Qur’an kepada Jibril dua kali, bukan sekali seperti biasanya. Ini dipahami oleh sebagian sahabat sebagai isyarat bahwa ajal beliau telah dekat.
  3. I’tikaf Dua Puluh Hari: Nabi ﷺ biasa beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadan setiap tahun. Namun, pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari, menunjukkan peningkatan intensitas ibadah di akhir hayatnya.

Hadis ini mengajarkan:
  1. Keutamaan mudarasah Al-Qur’an di bulan Ramadan, yaitu memperbanyak membaca dan menyimak Al-Qur’an.
  2. Pentingnya i’tikaf sebagai bentuk penguatan hubungan dengan Allah, terutama di bulan suci.
  3. Kesiapan spiritual Nabi ﷺ menjelang wafat, yang tercermin dari peningkatan ibadah beliau.

31. KEDERMAWANAN NABI ﷺ DI BULAN RAMADAN DAN PERTEMUAN DENGAN JIBRIL

 

Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لِأَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Qaza'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma, ia berkata, Nabiadalah seorang yang paling ringan untuk berbuat kebaikan. Dan paling dermawan lagi pada bulan Ramadan. Sebab, Jibril menemuinya pada setiap malam dalam bulan Ramadan hingga ia berbaring sementara Rasulullahmemperdengarkan bacaan Al-Qur'annya. Maka di saat Jibril menemuinya, pada saat itu pulalah beliau menjadi orang yang lebih cepat berbuat kebaikan bahkan melebihi cepatnya angin yang berembus.

Takhrij Hadis

  1. Shahih Bukhari, Bab Kaana jibril  Ya'ridhu Al-Qur'an 'Alaa Nabi, juz 6, no.4997, hal.186.
  2. Shahih Muslim, Bab Kaana Nabi saw Ajwadu Al-Anaasi Bil Khoiri Min Ar-Riih Al-Mursalah, juz 7, no.2308, hal.73.
  3. Sunan An-Nasa'i, Bab Al-Fadlu Wal Juud fii Syahri Ramadhan, juz 4, no.2095, hal.125
  4. Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah Ibnu Al-'Abbas, juz 4, no.2616, hal.375.

Kandungan Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas RA, dan menggambarkan akhlak mulia Rasulullah ﷺ, khususnya dalam hal kedermawanan, serta hubungan beliau dengan wahyu selama bulan Ramadan. 

  1. Nabi ﷺ adalah manusia paling dermawan, terutama dalam hal kebaikan dan pemberian kepada orang lain.
  2. Puncak kedermawanan beliau terjadi di bulan Ramadan, karena pada setiap malam di bulan tersebut, Malaikat Jibril menemuinya.
  3. Pertemuan itu berlangsung setiap malam hingga akhir Ramadan, dan dalam pertemuan itu, Nabi ﷺ membacakan Al-Qur’an kepada Jibril (dikenal sebagai ‘ardhah atau mudarasah Al-Qur’an).
  4. Kedermawanan Nabi ﷺ saat itu digambarkan melebihi angin yang berhembus kencang, yang berarti cepat, luas, dan menyentuh semua tempat tanpa pilih kasih.

Hadis ini menunjukkan bahwa:
  1. Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, karena di dalamnya Nabi ﷺ memperbanyak interaksi dengan wahyu.
  2. Kedermawanan adalah salah satu bentuk ibadah utama di bulan Ramadan, meneladani akhlak Nabi ﷺ.
  3. Mudarasah Al-Qur’an (saling menyimak dan membaca Al-Qur’an) adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan suci ini.


32. KEUTAMAAN DAN AWAL TURUNNYA SURAH AL-A'LA SEBELUM HIJRAH NABI ﷺ


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَاقَ سَمِعَ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَعَلَّمْتُ سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq bahwa ia mendengar Al Bara` bin Azib radhiallahu'anhu, ia berkata, Aku mempelajari surat, "SABBIHISMA RABBIKAL A'LAA.." sebelum kedatangan Nabi ﷺ.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari,  Bab Ta'lifu Al-Qur'an juz 6, no.4995, hal.185.

Kandungan Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Barā’ bin ‘Āzib RA, seorang sahabat Nabi ﷺ, dan mengandung informasi penting tentang waktu turunnya Surah Al-A‘lā serta pengajaran Al-Qur’an di masa awal Islam. 

  1. Pengajaran Sebelum Hijrah: Al-Barā’ bin ‘Āzib menyatakan bahwa ia telah mempelajari Surah "Sabbihisma Rabbikal A‘lā" (Surah Al-A‘lā) sebelum Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, yaitu sebelum peristiwa hijrah.
  2. Makna Historis: Ini menunjukkan bahwa Surah Al-A‘lā termasuk surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan di Makkah sebelum hijrah ke Madinah.
  3. Konteks Dakwah Awal: Hadis ini juga menggambarkan bahwa ajaran Al-Qur’an sudah tersebar dan dipelajari oleh para sahabat bahkan sebelum Nabi ﷺ berhijrah, menandakan kesungguhan para sahabat dalam menuntut ilmu dan menghafal wahyu sejak awal.


 

33. KEUTAMAAN SURAH-SURAH MAKKIYAH: LIMA SURAH DARI TILAD IBNU MAS'UD


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ بْنِ قَيْسٍ سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْكَهْفِ وَمَرْيَمَ وَطه وَالْأَنْبِيَاءِ إِنَّهُنَّ مِنْ الْعِتَاقِ الْأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلَادِي

Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq ia berkata, Aku mendengar Abdurrahman bin Yazid bin Qais Aku mendengar Ibnu Mas'ud berkata terkait dengan surat Bani Isra`il, Al-Kahfi Maryam, Ta Ha, dan Al-Anbiya`, "Sesungguhnya itu semua adalah dari surat-surat pertama yang diturunkan, dan semuanya pernah saya baca semenjak dahulu."

Takrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab  Ta'lifu Al-Qur'an, juz 6, no.4994 hal.185

Kandungan Hadis:

Hadis ini merupakan perkataan sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud RA, yang dikenal sebagai salah satu sahabat terdekat Nabi ﷺ dan termasuk di antara ahli qira’at serta penghafal Al-Qur’an yang terpercaya. 

  1. Surah-Surah yang Disebut: Ibnu Mas'ud menyebut lima surah, yaitu:Bani Israil (nama lain dari Surah Al-Isra’),Al-Kahf,Maryam, Taha dan  Al-Anbiya’.
  2. Makna "Al-‘Itāq al-Uwal": Istilah ini berarti "surah-surah lama yang mulia", menunjukkan bahwa surah-surah tersebut termasuk bagian awal dari wahyu yang diturunkan di Makkah, dan memiliki kedudukan istimewa dalam hati Ibnu Mas'ud.
  3. Makna "Tilādī": Kata ini berasal dari "tilād", yang berarti harta warisan lama atau milik pribadi yang sangat berharga. Dengan menyebut surah-surah ini sebagai "tilādī", Ibnu Mas'ud menegaskan bahwa ia sangat mencintai dan menjaga surah-surah tersebut, seolah-olah itu adalah harta pribadinya yang paling berharga.


1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...