Rabu, 21 Januari 2026

1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

 REDAKSI HADIS

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami Al A'masy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan Adl Dlahak Al Masyriqi dari Abu Sa'id Al Khudri radhiallahu'anhu, ia berkata, Nabi bersabda kepada para sahabatnya, "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al-Qur'an pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda, "ALLAHUL WAAHID ASH SHAMAD (maksudnya surah Al-ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al-Qur'an."

TAKHRIJ HADIS

1.      Ṣaḥīḥ al-Bukhārī,Kitab: Faḍā’il al-Qur’ān , Bab Qul huwa Allāhu Aḥad ‘adlu thuluth al-Qur’ān  No. hadis: 5015 

2.      Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab: Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣruhā, Bab: Faḍl Qul huwa Allāhu Aḥad wa annahā ta‘dilu thuluth al-Qur’ān  No. hadis: 811 

3.      Sunan al-Tirmidhī, Kitab: Faḍā’il al-Qur’ān ,Bab: Mā jā’a fī annā qul huwa Allāhu Aḥad ta‘dilu thuluth al-Qur’ān  No. hadis: 2895 

4.      Sunan al-Nasā’ī Kitab: al-Iftitāḥ, Bab: Faḍl Qul huwa Allāhu Aḥad  No. hadis: 996 

5.      Musnad Aḥmad ibn Ḥanbal, Riwayat dari Abu Sa‘īd al-Khudrī r.a.   No. hadis: 11089

KANDUNGAN HADIS

1.      Kemudahan ibadah: Rasulullah memberikan jalan yang lebih ringan bagi umatnya untuk memperoleh pahala besar, yaitu dengan membaca surah al-Ikhlāṣ. 

2.       Keutamaan surah al-Ikhlāṣ: Surah ini mengandung inti pokok aqidah Islam, yaitu tauhid (mengesakan Allah). Karena itu, nilainya sebanding dengan sepertiga al-Qur’an. 

3.      Tauhid sebagai inti ajaran: Al-Qur’an secara garis besar membahas tiga hal:  Tauhid (mengenal Allah dan sifat-Nya). 

Syariat (hukum-hukum dan ibadah). 

Kisah/ibrah (cerita umat terdahulu sebagai pelajaran). 

4.      Surah al-Ikhlāṣ mencakup bagian tauhid, sehingga disebut sepertiga al-Qur’an. 

5.      Motivasi membaca al-Qur’an: Hadis ini mendorong umat Islam untuk senantiasa membaca al-Qur’an, meskipun sedikit, karena setiap bacaan memiliki nilai dan keutamaan besar. 


2.KEWAJIBAN MENJAGA DAN MENGULANG HAFALAN AL-QUR'AN AGAR TIDAK HILANG

 REDAKSI HADIS

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala', telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi, beliau bersabda, "Peliharalah selalu Al-Qur'an, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia cepat hilang daripada Unta yang terikat."

TAKHRIJ HADIS
  1. Shahih al-Bukhari ,Kitab Fadhail al-Qur’an (Keutamaan Al-Qur’an), Bab Ta‘ahud al-Qur’an  Nomor hadis: 5033 
  2. Shahih Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha Bab al-Amru bi Ta‘ahud al-Qur’an  Nomor hadis: 789
  3. Sunan Abu Dawud, Kitab al-Witr  Bab Fi Ta‘ahud al-Qur’an   Nomor hadis: 1470
  4.   Sunan an-Nasa’I, Kitab al-Imamah, Bab Ta‘ahud al-Qur’an  Nomor hadis: 938
G    KANDUNGAN HADIS

1.      Perintah menjaga hafalan Al-Qur’an 

Kata تَعَاهَدُوا berarti senantiasa memperhatikan, mengulang, dan menjaga bacaan Al-Qur’an agar tidak hilang dari ingatan. 

Hafalan Al-Qur’an sangat mudah hilang bila tidak dijaga dengan muraja‘ah (pengulangan).

2.      Perumpamaan dengan unta 

Unta yang diikat bisa lepas dengan cepat jika tidak dijaga. 

Begitu pula hafalan Al-Qur’an: jika tidak diulang, ia akan hilang lebih cepat daripada unta yang lepas dari ikatannya.

3.      Makna praktis bagi umat Islam 

Orang yang menghafal Al-Qur’an wajib rutin membaca dan mengulang hafalannya.  Tidak cukup hanya menghafal sekali, tetapi harus ada muraja‘ah harian. 

Hadis ini menunjukkan pentingnya disiplin dalam menjaga ilmu, khususnya Al-Qur’an.

4.      Hikmah 

Menjaga Al-Qur’an adalah bentuk penghormatan terhadap wahyu Allah. 

Mengingatkan bahwa manusia mudah lalai, sehingga perlu usaha terus-menerus. 

Menjadi motivasi bagi para penghafal Al-Qur’an agar tidak merasa cukup dengan hafalan awal.







3. IRI DENGAN AHLI AL-QUR'AN

 REDAKSI HADIS

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ سَمِعْتُ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman Aku mendengar Dzakwan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, "Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua perkara, yaitu: Seseorang yang telah diajari Al-Qur'an oleh Allah, sehingga ia membacanya di pertengahan malam dan siang, sampai tetangga yang mendengarnya berkata, 'Duh.., sekiranya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si Fulan, niscaya aku akan melakukan apa yang dilakukannya.' Kemudian seseorang diberi karunia harta oleh Allah, sehingga ia dapat membelanjakannya pada kebenaran, lalu orang pun berkata, 'Seandainya aku diberi karunia sebagaimana si Fulan, maka niscaya aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukannya."

 TAKHRIJ HADIS

1.     Shahih al-Bukhari,Kitab Fadhail al-Qur’an, Bab La Hasada Illa Fitnatayn  Nomor hadis: 5025 (Fath al-Bari)

2. Shahih Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab La Hasada Illa Fitnatayn  Nomor hadis: 815 (Syarh Muslim oleh Nawawi) 

3. Sunan an-Nasa’i ,Kitab al-Jumu‘ah, Bab al-Hasad  Nomor hadis: 1387

4. Sunan Ibn Majah,Kitab al-Zuhd, Bab al-Hasad  Nomor hadis: 4228

5. Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi  Bab Keutamaan Membaca Al-Qur’an

KANDUNGAN HADIS

1.  Hasad yang terpuji: Islam melarang hasad (iri hati) secara umum, namun ada pengecualian berupa ghibṭah (keinginan baik) terhadap dua golongan 

 Orang yang diberi ilmu Al-Qur’an: Ia membaca, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an siang dan malam. Orang lain boleh berangan-angan memiliki keutamaan yang sama agar bisa beramal serupa.

3.Orang yang diberi harta: Ia membelanjakan hartanya di jalan Allah, menolong agama dan sesama.

  Orang lain boleh berharap memiliki harta untuk berinfak sebagaimana dia.

4.      Makna ghibṭah vs hasad:

Hasad: menginginkan nikmat orang lain hilang.

Ghibṭah: menginginkan nikmat serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang.

5.      Pesan utama: Islam mendorong umatnya untuk berlomba dalam kebaikan, bukan iri dalam urusan dunia semata. Yang patut diinginkan adalah nikmat yang membawa manfaat bagi agama dan umat.


Sabtu, 10 Januari 2026

4.BACALAH AL-QUR'AN SELAMA MENJADIKAN HATI KALIAN BERSATU

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُومُوا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abu Imran Al Jauni dari Jundub bin Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Bacalah Al-Qur'an ketika hati-hati kalian memang menyatu, namun jika kalian berselisih, maka beranjaklah darinya."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5060
  2. Shahih Muslim no.2667
  3. Musnad Ad-Darimi no.3402
  4. Musnad Ahmad no.18816
Kandungan Hadis:

1. Anjuran Membaca Al-Qur’an dalam Suasana Persatuan:

  • Rasulullah ﷺ memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca ketika hati-hati dalam keadaan saling menyatu dan harmonis.
  • Ini menunjukkan bahwa kondisi batin dan suasana hati sangat penting dalam membaca dan memahami Al-Qur’an.
2. Larangan Membaca dalam Keadaan Perselisihan:
  • Jika terjadi perbedaan, pertengkaran, atau perselisihan, maka hendaknya berhenti sejenak dari membaca Al-Qur’an.
  • Hal ini untuk menjaga kehormatan Al-Qur’an dan agar bacaan tidak menjadi sumber perpecahan atau perdebatan yang tidak bermanfaat.
3. Makna dan Hikmah:
  • Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan rahmat, maka membacanya harus dalam suasana tenang, khusyuk, dan penuh adab.
  • Hadis ini juga menjadi dasar adab dalam majelis ilmu dan tilawah, bahwa jika suasana tidak kondusif, lebih baik ditinggalkan sementara.
4. Relevansi Praktis:
Dalam konteks belajar atau tadarus bersama, jika terjadi perbedaan tajwid, qira’at, atau pemahaman yang menimbulkan ketegangan, maka lebih baik menghentikan sejenak dan menyelesaikan dengan hikmah.

Referensi Hadis:
Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhā’il al-Qur’ān (Keutamaan Al-Qur’an), Bab: Membaca Al-Qur’an Ketika Hati Bersatu, Nomor Hadis: 5061


5. BATASAN WAKTU DALAM MENGKHATAMKAN AL-QUR'AN

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى بَنِي زُهْرَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ وَأَحْسِبُنِي قَالَ سَمِعْتُ أَنَا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Yahya dari Muhamamd bin Abdurrahman Maula Bani Zuhrah, dari Abu Salamah ia berkata, -dan aku menduga ia berkata- Aku mendengar dari Abu Salamah dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah bersabda, "Bacalah Al-Qur'an itu dalam satu bulan." Aku berkata, "Sesungguhnya aku lebih mampu dari itu." Beliau bersabda, "Kalau begitu, bacalah (khatamkanlah) ia dalam tujuh hari, dan janganlah melewati batas itu."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5054
  2. Shahih Muslim no.1159
  3. Sunan Abi Daud no.1388
  4. Jami' At-Tirmidzi no.2946
  5. Sunan An-Nasa'i no.2400
  6. Sunan Ibnu majah no.1346
  7. Musnad Ad-Darimi no.3529
  8. Musnad Ahmad no.6546
Kandungan Hadis:

1. Perintah Nabi ﷺ untuk Membaca Al-Qur’an:

Rasulullah ﷺ memerintahkan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash RA untuk membaca Al-Qur’an dalam waktu sebulan sekali.

2. Permintaan Abdullah bin ‘Amr RA:
Ia merasa memiliki kekuatan dan kemampuan lebih, sehingga meminta izin untuk membaca lebih cepat dari itu.

3. Batasan yang Ditetapkan Nabi ﷺ:
  •  Nabi ﷺ kemudian memberikan keringanan dan bersabda:
  • "Bacalah dalam tujuh hari, dan jangan lebih dari itu."
  • Ini menunjukkan bahwa batas maksimal yang dianjurkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an adalah tujuh hari, agar tidak terburu-buru dan tetap bisa merenungi maknanya.
4. Hikmah Hadis:
  • Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara semangat ibadah dan kemampuan pribadi.
  • Rasulullah ﷺ menginginkan agar umatnya membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), bukan sekadar cepat menyelesaikan bacaan.
  • Menunjukkan bahwa ibadah harus disesuaikan dengan kemampuan, dan kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas.

Hadis ini menjadi pedoman penting dalam manajemen waktu membaca Al-Qur’an, agar tidak tergesa-gesa dan tetap menjaga kekhusyukan serta pemahaman terhadap isi kandungannya.

Referensi Hadis:
- Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhā’il al-Qur’ān (Keutamaan Al-Qur’an),
  Bab: Dalam Berapa Hari Al-Qur’an Dikhatamkan,
  Nomor Hadis: 5052
- Shahih Muslim, Kitab Ṣiyām (Puasa),
  Bab: Larangan Mengkhatamkan Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari,
  Nomor Hadis: 1159



6.KEINGINAN NABI ﷺ UNTUK MENDENGARKAN BACAAN AL-QUR'AN DARI ORANG LAIN

Redaksi Hadis 

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Al A'masy ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim dari Abidah dari Abdullah radhiallahu'anhu, ia berkata, Nabi pernah bersabda padaku, "Bacakanlah Al-Qur'an untukku." Aku pun berkata, "Apakah aku akan membacakan untuk Anda, padahal ia diturunkan kepada Anda?" beliau bersabda, "Sesungguhnya aku suka untuk mendengarnya dari orang lain."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5049
  2. Shahih Muslim no.800
  3. Sunan Abi Daud no.3668
  4. Jami' At-Tirmidzi no.3025
  5. Sunan Ibnu Majah no.4194
  6. Musnad Ahmad no.3550
Kandungan Hadis:

1. Permintaan Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Mas‘ud:
Rasulullah ﷺ meminta Abdullah bin Mas‘ud RA untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya: "اقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ" (Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku).

2. Respons Abdullah bin Mas‘ud:
Ia merasa heran dan berkata:"Apakah aku akan membacakannya kepadamu, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?"

3. Jawaban Rasulullah ﷺ:
Nabi ﷺ menjawab:"إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي" (Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain).

4. Makna dan Hikmah Hadis:
  • Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi ﷺ, beliau tetap senang mendengarnya dari orang lain.
  • Ini menjadi dalil bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain adalah amalan yang dianjurkan dan dapat menambah kekhusyukan serta penghayatan.
  • Juga menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an.
5. Pelajaran Penting:
  • Kita dianjurkan untuk saling membacakan dan mendengarkan Al-Qur’an.
  • Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain bisa menjadi sarana tadabbur dan memperdalam pemahaman serta kecintaan terhadap wahyu Allah.
Hadis ini menjadi dasar penting dalam adab membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, serta menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an adalah ibadah yang dicintai oleh Rasulullah ﷺ.

Referensi Hadis:
  • Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhā’il al-Qur’ān (Keutamaan Al-Qur’an), Bab: Nabi ﷺ Suka Mendengarkan Al-Qur’an dari Orang Lain, Nomor Hadis: 5049
  • Shahih Muslim, Kitab Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bab: Anjuran Membaca dan Mendengarkan Al-Qur’an, Nomor Hadis: 800



7.KEINDAHAN SUARA ABU MUSA AL-ASY'ARI DALAM MEMBACA AL-QUR'AN

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ جَدِّهِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammd bin Khalaf Abu Bakr, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Al Himmani, telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abdulla bin Abu Burdah dari kakeknya, Abu Burdah dari Abu Musa radhiallahu'anhu, dari Nabi, beliau bersabda kepadanya, "Wahai Abu Musa, sesungguhnya engkau telah diberi Mizmar (seruling) dari Mazaamir (seruling) -nya keluarga Daud."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5048
  2. Shahih Muslim no.793
  3. Jami' At-Tirmidzi no.3855
Kandungan Hadis:

1. Pujian Rasulullah ﷺ kepada Abu Musa:

Rasulullah ﷺ memuji suara indah Abu Musa al-Asy‘ari dalam membaca Al-Qur’an dengan bersabda:
"Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi mizmar (suara merdu) dari mazamir (alat musik) keluarga Dawud."

2. Makna “Mizmaran min Mazāmīr Āli Dāwūd”:
  • “Mizmar” secara bahasa berarti seruling atau alat musik tiup, namun dalam konteks ini bermakna suara yang merdu dan menyentuh hati.
  • “Mazamir Āli Dāwūd” merujuk pada keindahan suara Nabi Dawud ‘alaihis-salām dalam melantunkan zikir dan pujian kepada Allah, yang sangat menyentuh hati dan membuat makhluk ikut bertasbih.
3. Keutamaan Membaca Al-Qur’an dengan Suara Merdu:
  • Hadis ini menunjukkan bahwa memperindah suara saat membaca Al-Qur’an adalah sunnah dan sangat dianjurkan.
  • Suara yang merdu dalam membaca Al-Qur’an dapat menyentuh hati dan meningkatkan kekhusyukan.
4. Adab dan Spiritualitas:
  • Rasulullah ﷺ sendiri menikmati dan mengapresiasi bacaan Al-Qur’an yang indah dari para sahabatnya.
  • Ini menunjukkan bahwa keindahan suara adalah anugerah, dan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah jika digunakan dalam kebaikan.
Hadis ini menjadi dalil penting dalam ilmu tilawah dan adab membaca Al-Qur’an, serta menunjukkan penghargaan Nabi ﷺ terhadap keindahan dalam ibadah.



8.BACAAN NABI ﷺ YANG LEMBUT DAN MERDU SAAT BERKENDARA

Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو إِيَاسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ أَوْ جَمَلِهِ وَهِيَ تَسِيرُ بِهِ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ أَوْ مِنْ سُورَةِ الْفَتْحِ قِرَاءَةً لَيِّنَةً يَقْرَأُ وَهُوَ يُرَجِّعُ

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Abu Iyas ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, Aku pernah melihat Nabi membaca saat beliau berada di atas Untanya yang berjalan, ketika itu beliau membaca surah Al Fath atau bagian dari surah Al Fath, yakni dengan bacaan yang pelan seraya mengulang-ngulangnya."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5047
  2. Shahih Muslim no.794
  3. Sunan Abi Daud no. 1467
  4. Musnad Ahmad no.16789
Kandungan Hadis:

1. Peristiwa yang Diriwayatkan:
Abdullah bin Mughaffal RA melihat Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an saat berada di atas unta atau kendaraannya yang sedang berjalan.

2. Surah yang Dibaca:
Nabi ﷺ membaca Surah al-Fath atau sebagian dari surah tersebut.

3. Gaya Bacaan Nabi ﷺ:
Beliau membaca dengan suara lembut (قراءة لينة) dan tarji‘ (يُرَجِّعُ), yaitu bacaan yang berirama atau bernada, menunjukkan keindahan dan penghayatan dalam membaca Al-Qur’an.

4. Pelajaran Penting:
  • Hadis ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bisa dilakukan dalam berbagai kondisi, termasuk saat bepergian.
  • Meneladani bacaan Nabi ﷺ yang lembut dan penuh penghayatan adalah bagian dari adab membaca Al-Qur’an.
  • Tarji‘ menunjukkan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an adalah sunnah yang dianjurkan.

9. CARA BACAAN RASULULLAH ﷺ: BACAAN DENGAN PEMANJANGAN (MAD).

Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قِرَاءَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ يَمُدُّ مَدًّا

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim Al Azdi, telah menceritakan kepada kami Qatadah ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik mengenai bacaan Nabi ﷺ, maka ia pun menjawab, "Bacaan beliau adalah memanjangkan sehingga bisa dibaca."

Tkahrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5045
  2. Sunan Abi Daud no.1456
  3. Sunan An-Nasa'i no.1014
  4. Sunan Ibnu Majah no.1353
  5. Musnad Ahmad no.12198
Kandungan Hadis:

1. Pertanyaan tentang Bacaan Nabi ﷺ:
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik tentang bagaimana cara Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an.

2. Jawaban Anas bin Malik:
 Anas menjawab bahwa Rasulullah ﷺ membaca dengan memanjangkan bacaan (يَمُدُّ مَدًّا), yaitu memperpanjang huruf-huruf yang memang memiliki hukum mad (panjang) dalam tajwid.

3. Makna “Yamuddu Maddan”:
  •  Frasa ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an dengan tartil (perlahan dan jelas), memperhatikan panjang pendek huruf sesuai dengan kaidah tajwid.
  •  Ini mencerminkan kesempurnaan bacaan beliau, yang tidak tergesa-gesa dan penuh penghayatan.
4. Pelajaran dari Hadis:
  • Hadis ini mengajarkan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tartil dan memperhatikan hukum-hukum tajwid.
  • Meneladani cara bacaan Nabi ﷺ merupakan bagian dari adab dalam membaca Al-Qur’an.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, dan menjadi salah satu dalil penting dalam ilmu tajwid dan adab tilawah.

10.LARANGAN NABI MUHAMMAD ﷺ MENGGERAKAN LIDAH SAAT TURUNNYA WAHYU.

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ } قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ جِبْرِيلُ بِالْوَحْيِ وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ بِهِ لِسَانَهُ وَشَفَتَيْهِ فَيَشْتَدُّ عَلَيْهِ وَكَانَ يُعْرَفُ مِنْهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ الْآيَةَ الَّتِي فِي لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ } فَإِنَّ عَلَيْنَا أَنْ نَجْمَعَهُ فِي صَدْرِكَ { وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ } فَإِذَا أَنْزَلْنَاهُ فَاسْتَمِعْ { ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ } قَالَ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ نُبَيِّنَهُ بِلِسَانِكَ قَالَ وَكَانَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ أَطْرَقَ فَإِذَا ذَهَبَ قَرَأَهُ كَمَا وَعَدَهُ اللَّهُ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Musa bin Abu Aisyah dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma, yakni terkait dengan firman-Nya, "LAA TUHARRIK BIHI LISAANAKA LITAJALA BIHI." Ibnu Abbas berkata, "Apabila Jibril turun kepada Rasulullah dengan membawa wahyu, maka biasanya beliau mengerakkan dan lisan dan kedua bibirnya, serta agaknya beliau merasakan sesuatu yang berat. Maka Allah menurunkan ayat yang di dalamnya terdapat ungkapan, "LAA UQSIMU BIHAADZA BIYAUMIL QIYAAMAH.., LAA TUHARRIK BIHI LISAANAKA LITAJALA BIHI, INNA 'ALAINA JAM'AHU.." maksudnya adalah, bahwa Kamilah yang akan mengumpulkannya di dalam dadamu."FA`IDZAA QARA NAAHU FATTABI' QUR'AANAH.." Yakni, apabila kami menurunkannya maka dengarkanlah."TSUMMA 'ALAINAA BAYAANAH.." Yakni, Kamilah yang akan menjelaskannya melalui perantara lisanmu. Biasanya, apabila beliau didatangi oleh Jibril, maka beliau menunduk, dan setelah Jibril pergi, beliau membacanya sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5044
  2. Shahih Muslim no.448
  3. Jami' At-Tirmidzi no.3329
  4. Sunan An-Nasa'i no.935
  5. Musnad Ahmad no.1910
Kandungan Hadis:

1. Konteks Turunnya Wahyu:
Ketika malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau terburu-buru menggerakkan lidah dan bibirnya untuk segera menghafal wahyu tersebut karena khawatir akan melupakannya.

2. Kekhawatiran Nabi ﷺ:
Nabi merasa cemas agar tidak kehilangan bagian dari wahyu yang disampaikan, sehingga beliau berusaha mengulang-ulangnya dengan cepat saat wahyu sedang diturunkan.

3. Turunnya Ayat sebagai Peneguhan:
    Allah menurunkan ayat dalam Surah Al-Qiyamah (ayat 16–19):
Artinya: "Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Maka apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.

4. Jaminan dari Allah:
Allah menjamin bahwa Dia sendiri yang akan mengumpulkan wahyu dalam dada Nabi, menjadikannya hafal, dan menjelaskan maknanya. Maka Nabi tidak perlu terburu-buru saat menerima wahyu.

5. Perubahan Sikap Nabi ﷺ:
Setelah turunnya ayat ini, Nabi ﷺ tidak lagi menggerakkan lidahnya saat wahyu turun. Beliau diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu membacanya kembali setelah Jibril selesai menyampaikan.

Hadis ini menunjukkan kelembutan Allah dalam membimbing Nabi-Nya, serta keagungan wahyu yang dijaga langsung oleh Allah. Ia juga mengajarkan kita tentang pentingnya ketenangan dan tawakal dalam menerima ilmu.


1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...