Selasa, 16 Desember 2025

20. KEINDAHAN MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN SUARA MERDU


Redaksi hadis

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْذَنْ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ وَقَالَ صَاحِبٌ لَهُ يُرِيدُ يَجْهَرُ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa ia berkata, Rasulullah bersabda, "Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu pun kepada Nabi sebagaimana izin-Nya untuk melagukan Al-Qur'an." Salah seorang sahabatnya berkata, Maksudnya adalah melagukannya dengan suara yang keras.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Man lam Yataghanna bi Al-Qur'an, no.5023.
  2. Shahih Muslim, Bab Istihbab Tahsiinu Ash-Shaut Bi Al-Qur'an, no.792.
  3. Sunan Abi Daud, Bab Istihbab At-Tartil fii Al-Qira'ah, no.1473.
  4. Sunan An-Nasa'i, Bab Tajyiin Al-Qur'an bi Ash-Shaut, no.1017 dan 1018.
  5. Musnad Ad-Darimi, Bab At-Taghanii bi Al-Qur'an, no.1529,1532,3533,3534 dan 3540.
  6. Musnad Ahmad, Dalam Musnad Ahmad, no.7670,7832 dan 9505.

Kandungan Hadis:

  1. Taghannī bil-Qur’an: Kata taghannī berarti membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan. Ini bukan bernyanyi dalam arti musik, tetapi memperindah bacaan sesuai dengan adab dan tajwid.
  2. Mengeraskan suara dalam bacaan: Sahabat menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca dengan suara yang terdengar, bukan sekadar dalam hati, agar bisa dinikmati dan direnungkan.
  3. Allah mencintai bacaan yang indah: Hadis ini menunjukkan bahwa Allah sangat menyukai bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang indah dan penuh penghayatan.
  4. Pengaruh spiritual: Bacaan yang merdu dapat menyentuh hati, menenangkan jiwa, dan menguatkan iman, baik bagi pembaca maupun pendengarnya.
  5. Dorongan untuk memperbaiki bacaan: Hadis ini mendorong umat Islam untuk belajar tajwid dan memperindah bacaan Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan terhadap wahyu Allah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan menunjukkan pentingnya seni membaca Al-Qur’an dengan penuh rasa dan keindahan, bukan sekadar melafalkan huruf.


21.WASIYAT NABI SAW: BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR'AN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى آوْصَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا فَقُلْتُ كَيْفَ كُتِبَ عَلَى النَّاسِ الْوَصِيَّةُ أُمِرُوا بِهَا وَلَمْ يُوصِ قَالَ أَوْصَى بِكِتَابِ اللَّهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal, telah menceritakan kepada kami Thalhah ia berkata, Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa, "Apakah Nabi pernah berwasiat?" Ia menjawab, "Tidak." Aku berkata, "Lalu bagaimana wasiat itu diwajibkan atas orang-orang untuk menunaikannya sementara beliau tidaklah berwasiat?" Ia menjawab, "Beliau telah berwasiat dengan kitabullah."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Al-Wushah bi Kitabillah 'Ajja wa Jalla, no.5022.
  2. Shahih Muslim, Bab Tarku Al-Washiyyatu liman Laisa Lahu Sya'i, no.1634.
  3. Jami' At-Tirmidzi, Bab Anna Al-Nabiya lam Yusha, no.2119.
  4. Sunan An-Nasa'i, Bab Hal Awshaa  An-Nabi saw, no.3620.
  5. Sunan Ibnu Majah, Bab Hal Awsha Rasulullah saw, no.2696.
  6. Musnad Ad-Darimi, Bab Man lam Yusha, no.3224.
  7. Musnad Ahmad,  Bab Baqiyatu Hadis 'Abdullah bin Abi Aufa 'An An-Nabi Saw, no.19123,19136 dan 19408.

Kandungan Hadis:

  1. Kitabullah sebagai wasiat terbesar: Nabi ﷺ tidak meninggalkan wasiat dalam bentuk harta atau pesan pribadi, tetapi mewariskan Al-Qur'an sebagai pedoman utama bagi umatnya.
  2. Makna wasiat dalam Islam: Meskipun umat Islam dianjurkan untuk membuat wasiat harta, wasiat Nabi ﷺ bersifat lebih agung dan universal,  yaitu agar umatnya berpegang teguh pada wahyu Allah.
  3. Petunjuk hidup: Wasiat Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama petunjuk, hukum, dan nilai-nilai dalam kehidupan seorang Muslim.
  4. Penegasan terhadap pentingnya Al-Qur'an: Dalam berbagai riwayat lain, Nabi ﷺ juga menekankan agar umatnya tidak tersesat selama mereka berpegang pada Kitabullah dan Sunnah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan menunjukkan bahwa warisan terbesar Nabi ﷺ bukanlah materi, melainkan wahyu dan ilmu.




22. PERUMPAMAAN ORANG YANG MEMBACA DAN TIDAK MEMBACA AL-QUR'AN


Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ أَبُو خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلَا رِيحَ لَهَا

Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Abu Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dari Abu Musa Al Asy'ari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Utrujjah, rasanya lezat dan baunya juga sedap. Sedang orang yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah kurma, rasanya manis, namun baunya tidak ada. Adapun orang Fajir yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang Fajir yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga tidak sedap."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari, Bab Fadlu Al-Q'ur'an  'Alaa Saa'ir Al-Kalam, no.5020.
  2. Shahih Muslim, Bab Fadiilah Haafidz Al-Qur'an, no.797.
  3. Sunan Abi Daud, Bab  Man Yu'amir an Yujaalis, no.4829.
  4. Jami' At-Tirmidzi, Bab Matsalu Al-Mu'minu Al-Qari' Lil Qur'an Wa Ghairu Al-Qari', no.2865.
  5. Sunan An-Nasa'i , Bab Matsalul ladzi  yaqra'u' Al-Qur'an Min Mu'min Wa Munaafiq, no.5038.
  6. Sunan Ibnu Majah, Bab Fadlu Man Ta'allama Al-Qur'an Wa 'Allamahu, no.214.
  7. Musnad Ad-Daarimi, Bab Matsalu Al-Mu'minul ladzi Yakra'u Al-Qur'an, no.3406.
  8. Musnad Ahmad, Dalam hadis Abi Musa Al-Asy'ari, no.19664.

Kandungan Hadis:

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ memberikan empat perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna untuk menggambarkan kondisi manusia dalam hubungannya dengan Al-Qur'an dan akhlaknya:

1. Orang Mukmin yang Membaca Al-Qur'an:

 Seperti buah utrujjah (jeruk):

  •    Rasanya enak
  •     Aromanya harum

 Makna: Orang beriman yang membaca Al-Qur'an memiliki batin yang baik (iman) dan lahir yang indah (bacaan Al-Qur'an yang memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain).

2. Orang Mukmin yang Tidak Membaca Al-Qur'an:

   Seperti buah tamr (kurma):

  •      Rasanya enak
  •      Tidak beraroma

 Makna: Ia tetap memiliki iman yang baik, namun tidak menyebarkan manfaat bacaan Al-Qur'an kepada orang lain karena tidak membacanya.

3. Orang Fajir (pendosa) yang Membaca Al-Qur'an:

    Seperti raihanah (sejenis tanaman harum):

  •      Aromanya harum
  •      Rasanya pahit

 Makna: Meskipun ia membaca Al-Qur'an dan bisa memberi manfaat lahiriah (seperti suara yang indah), namun batinnya rusak karena kefasikannya.

4. Orang Fajir yang Tidak Membaca Al-Qur'an:

   Seperti hanzhalah (buah pahit):

  •      Rasanya pahit
  •      Tidak beraroma

 Makna: Tidak ada kebaikan lahir maupun batin darinya; tidak membaca Al-Qur'an dan juga tidak memiliki iman yang baik.

Pelajaran Penting dari Hadis Ini:

  1. Keutamaan membaca Al-Qur'an bagi orang beriman: Membaca Al-Qur'an memperindah iman dan menjadikan seseorang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
  2. Perumpamaan yang mendalam: Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan buah-buahan untuk menggambarkan kondisi spiritual dan sosial seseorang.
  3. Pentingnya keselarasan antara iman dan amal: Tidak cukup hanya membaca Al-Qur'an, tetapi juga harus disertai dengan keimanan dan akhlak yang baik.
  4. Refleksi diri: Hadis ini mengajak kita untuk menilai diri, termasuk dalam kategori manakah kita berada, dan berusaha menjadi seperti utrujjah.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan Imam Muslim, dan termasuk dalam kategori muttafaq ‘alayh, yang menunjukkan tingkat keautentikannya yang sangat tinggi.



1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...