Jumat, 19 Desember 2025

11. NABI ﷺ DIINGATKAN AYAT YANG TERLUPA SAAT MENDENGAR BACAAN DI MASJID PADA MALAM HARI.

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ آدَمَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَارِئا يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً أَسْقَطْتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Adam, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mushir, telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata, Pada suatu malam, Nabi mendengar seseorang membaca Al-Qur'an di dalam Masjid, maka beliau pun bersabda, "Semoga Allah merahmatinya, sungguh ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat yang telah aku gugurkan dari surat ini dan ini"

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5042
  2. Shahih Muslim no.788
  3. Sunan Abi Daud no.3970
  4. Musnad Ahmad no. 25069

Kandungan Hadis:

1. Manusia Bisa Lupa Ayat Al-Qur’an
  • Nabi ﷺ mengakui bahwa beliau sempat melupakan sebagian ayat, lalu teringat kembali setelah mendengar bacaan orang lain. Ini menunjukkan bahwa lupa adalah sifat manusiawi, termasuk pada Nabi, tanpa mengurangi kemaksuman beliau dalam menyampaikan wahyu.
2. Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Malam Hari
  • Lelaki yang membaca di malam hari di masjid tidak hanya mendapat pahala, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain, termasuk Nabi ﷺ sendiri.
3. Doa Nabi untuk Pembaca Al-Qur’an
  • Nabi ﷺ mendoakan: "يَرْحَمُهُ اللَّهُ" (semoga Allah merahmatinya)   menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bisa menjadi sebab turunnya rahmat, apalagi jika bermanfaat bagi orang lain.

12. DUA AYAT TERAKHIR SURAH AL-BAQARAH MENCUKUPI PADA MALAM HARI

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَلْقَمَةَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَ بِهِمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami Al A'masy ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim dari 'Alqamah dan Abdurrahman bin Yazid dari Abu Mas'ud Al Anshar ia berkata, Nabi bersabda, "Dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5008
  2. Shahih Muslim no.808
  3. Sunan Abi Daud no.1397
  4. Jami' At-Tirmidzi no.2881
  5. Sunan Ibnu Majah no.1369
  6. Musnad Ad-Darimi no.3431
  7. Musnad Ahmad no.17068

Kandungan Hadis:

1. Keutamaan Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah (Ayat 285–286)
  • Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa siapa yang membacanya di malam hari, maka "كَفَتَاهُ",“akan mencukupinya.”
2. Makna “Kafatahu” (كَفَتَاهُ): Ulama berbeda pendapat:
  • Mencukupi dari qiyamul-lail (shalat malam)  yakni mendapat pahala besar meski tidak shalat panjang.
  • Melindunginya dari gangguan  seperti jin, syaitan, dan musibah.
  •  Mencukupi dalam doa & perlindungan  seakan ia telah berdoa sepanjang malam.
3. Amalan Sunnah Sebelum Tidur
  • Hadis ini jadi dalil anjuran membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah sebelum tidur  sebagai bagian dari wirid malam.

13. LARANGAN MENGATAKAN: AKU LUPA AYAT INI DAN ITU.

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Abu Wa `il dari Abdullah ia berkata, Nabi bersabda, Alangkah celakanya seorang yang mengatakan, 'Aku lupa ayat ini dan ini.'Akan tetapi hendaklah ia mengatakan, 'Aku telah dilupakan."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5032
  2. Shahih Muslim no.790
  3. Jami' At-Tirmidzi no. 2942
  4. Sunan An-Nasa'i no.943
  5. Musnad Ad-Darimi no.2787
  6. Musnad Ahmad no.4085

Kandungan Hadis:

1. Larangan Mengucapkan “Aku Lupa Ayat Ini” dengan Sombong
   - Nabi ﷺ mengecam seseorang yang berkata: "Aku lupa ayat ini dan itu", karena ucapan ini bisa menunjukkan sikap meremehkan atau kurangnya tanggung jawab menjaga Al-Qur'an.
2. Penggunaan Kalimat yang Lebih Sopan: “Aku Diperbuat Lupa”
   - Nabi mengajarkan untuk berkata: "بَلْ هُوَ نُسِّيَ" (melainkan dia dibuat lupa) sebagai bentuk adab dan pengakuan bahwa lupa itu datang dari Allah sebagai ujian atau takdir.
3. Adab terhadap Al-Qur’an
   - Hadis ini menekankan pentingnya sikap hormat dan kehati-hatian dalam berbicara tentang Al-Qur’an, termasuk saat mengalami kelupaan.
4. Tanggung Jawab Hafizh untuk Menjaga Hafalan
   - Meski lupa adalah sifat manusiawi, orang yang telah menghafal Al-Qur’an dianjurkan terus muroja‘ah (mengulang hafalan), agar tidak sampai "dibuat lupa".

14. NABI ﷺ DI BERI INGAT KEMBALI AYAT YANG TERLUPA SAAT MENDENGAR BACAAN SEORANG LELAKI DI MALAM HARI

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Raja`, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah ia berkakta; Rasulullah pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda, "Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5038
  2. Shahih Muslim no.788
  3. Sunan Abi Daud no.1331
  4. Musnad Ahmad no.25069

Kandungan Hadis:

  • Manusia Bisa Lupa Hafalan Al-Qur'an
  • Nabi ﷺ menyatakan bahwa beliau sempat lupa ayat-ayat tertentu, lalu teringat kembali karena mendengar orang lain membacanya. Ini menunjukkan bahwa lupa adalah sesuatu yang bisa .
  •  Hadis ini juga menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an secara terbuka atau terdengar bisa memberi manfaat kepada orang lain  termasuk sebagai pengingat hafalan.

15. IBNU 'ABBAS MENGHAFAL AL-MUHKAM SEBELUM WAFATNYA NABI ﷺ

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُفَصَّلَ هُوَ الْمُحْكَمُ قَالَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ وَقَدْ قَرَأْتُ الْمُحْكَمَ

Telah menceritakan kepadaku Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair ia berkata, "Sesungguhnya, surat-surat yang kalian anggap Al Mufashshal itulah Al Muhkam." Ibnu Abbas juga berkata, "Rasulullah wafat, sementara aku baru menginjak usia sepuluh tahun. Dan sungguh, aku telah membaca Al Muhkam.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5036
  2. Musnad Ahmad no.2283

Kandungan Hadis:

1. Istilah al-Muḥkam dan al-Mufaṣṣal
  • Sa‘īd bin Jubayr menjelaskan bahwa al-Mufaṣṣal, yaitu surah-surah pendek dari Qāf hingga An-Nās, disebut juga al-Muḥkam, karena ayat-ayatnya jelas dan kuat dalam makna serta hukum.
2. Kecerdasan Ibnu ‘Abbas
  • Ibnu ‘Abbas berkata: "Rasulullah ﷺ wafat saat aku berusia 10 tahun dan aku telah membaca al-Muḥkam", menandakan dia sudah hafal sebagian besar Al-Qur’an (minimal dari Qāf ke An-Nās) sejak kecil.
3. Pentingnya Mengajarkan Al-Qur’an Sejak Dini
  •  Hadis ini menjadi dalil bahwa anak-anak sejak kecil sudah bisa mulai menghafal dan memahami Al-Qur’an.
4. Kebiasaan Sahabat Menggunakan Istilah Beragam

16. NABI MEMBACA SURAH AL-FATH SAAT PENAKLUKAN MaKKAH DI ATAS KENDARAANNYA

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو إِيَاسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Iyas ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, "Aku pernah melihat Rasulullahpada hari Fathu Makkah, dan saat itu, beliau sedang membaca surah Al Fath di atas kendaraannya.

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5034
  2. Shahih Muslim no.794
  3. Sunan Abi Daud no.1467
  4. Musnad Ahmad no.20558

Kandungan Hadis:

1. Keutamaan Surah al-Fath
  • Nabi ﷺ membaca Surah al-Fath saat momen besar: Fath Makkah (Penaklukan Makkah).
  • Ini menunjukkan bahwa surah tersebut berkaitan erat dengan kemenangan dan pertolongan Allah.
2. Tawadhu' Rasulullah ﷺ
  • Beliau membaca Al-Qur'an dengan tenang di atas tunggangannya, bukan dengan takbir kemenangan yang berlebihan, menunjukkan ketawadhu’an.
3. Disyariatkannya Membaca Al-Qur'an saat Safar
  • Nabi membaca surah di atas kendaraan saat dalam perjalanan, menandakan bolehnya membaca Al-Qur’an tanpa harus dalam keadaan duduk formal.
4. Kaitan Surah al-Fath dengan Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
  • Surah ini berisi kabar gembira atas kemenangan damai yang diraih tanpa peperangan besar.

17. PERUMPAMAAN PEMILIK Al-QUR'AN SEPERTI PEMILIK UNTA YANG TERIKAT

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

Telah menceritakan kepada kami Abudllah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan para penghafal Al-Qur'an adalah seperti seorang yang memiliki Utna yang terikat, jika ia selalu menjaganya, maka ia pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya akan hilang dan pergi."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5031
  2. Shahih Muslim no.789
  3. Sunan An-Nasa'i no.942
  4. Sunan Ibnu Majah no.3783
  5. Muwatha Malik no.541
  6. Musnad Ahmad no.4665

Kandungan hadis:

1. Perumpamaan yang Kuat 
  • Rasulullah ﷺ menggambarkan pemilik Al-Qur’an seperti pemilik unta yang diikat: jika ia menjaganya dengan baik, maka unta itu tetap bersamanya; jika ia melepaskannya, maka unta itu akan lari dan hilang.
  • Ini adalah perumpamaan yang sangat hidup dan mudah dipahami, terutama oleh masyarakat Arab yang akrab dengan unta.
2. Pentingnya Muraja’ah (Mengulang Hafalan)
  • Hadis ini menekankan bahwa menghafal Al-Qur’an saja tidak cukup. Diperlukan komitmen untuk terus mengulang dan menjaganya agar tidak hilang dari ingatan.
3. Al-Qur’an Mudah Lupa Jika Tidak Dijaga
  • Seperti unta yang cepat lepas jika tidak diikat, hafalan Al-Qur’an pun mudah hilang jika tidak dijaga dengan muraja’ah rutin.
4. Tanggung Jawab Pemilik Ilmu
  • Orang yang telah diberi nikmat menghafal Al-Qur’an memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
5. Dorongan untuk Konsistensi
  • Hadis ini mengajarkan pentingnya istiqamah (konsistensi) dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, bukan hanya semangat sesaat.
6. Nilai Spiritual dan Praktis
  • Selain nilai spiritual, hadis ini juga mengandung pelajaran praktis tentang bagaimana menjaga sesuatu yang berharga: dengan komitmen, perhatian, dan usaha terus-menerus.


18. KEUTAMAAN MEMPELAJARI DAN MENGAJARKAN AL-QUR'AN

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Alqamah bin Martsad Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian  seorang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Abu Abdirrahman membacakan (Al-Qur'an) pada masa Utsman hingga Hajjaj pun berkata, "Dan hal itulah yang menjadikanku duduk di tempat dudukku ini."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.5027
  2. Sunan Abi Daud no.1452
  3. Jami' At-Tirmidzi no.2907
  4. Sunan Ibnu Majah no.211
  5. Musnad Ad-Darimi
  6. Musnad Ahmad no.405
  • Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
  • Ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi dalam umat Islam adalah bagi mereka yang berinteraksi aktif dengan Al-Qur’an, baik sebagai pelajar maupun pengajar.
  • Abu Abdurrahman As-Sulami, perawi hadis ini, menyampaikan bahwa ia mengajarkan Al-Qur’an sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan hingga masa Al-Hajjaj, sebagai bentuk pengamalan langsung dari sabda Nabi ﷺ.
  • Ini menunjukkan kesungguhan dan konsistensi dalam mengajarkan Al-Qur’an sebagai bentuk ibadah dan dakwah.

Kandungan Hadis:

1. Orang Terbaik di Antara Umat

2. Keutamaan Mengajarkan Al-Qur’an

3. Motivasi Berdakwah dan Mengajar

Kalimat "Itulah yang membuatku duduk di tempat ini" menunjukkan bahwa hadis Nabi menjadi motivasi utama bagi para ulama untuk mengabdikan diri dalam mengajarkan Al-Qur’an.

4. Pentingnya Rantai Ilmu (Sanad)

Hadis ini juga memperlihatkan rantai transmisi ilmu (sanad) yang kuat dari Nabi ﷺ hingga para tabi’in, menunjukkan pentingnya keaslian dan kesinambungan ilmu dalam Islam.

5. Al-Qur’an sebagai Poros Kehidupan

Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipelajari, diajarkan, dan diamalkan, menjadikannya pusat kehidupan seorang Muslim.



19.KEUTAMAAN IRI YANG DIBENARKAN( HASAD YANG TERPUJI)

 Redaksi Hadis

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri ia berkata, telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah bahwasanya; Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, "Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu: Seorang yang diberi karunia Al-Qur'an oleh Allah sehingga ia membacanya (salat dengannya) di pertengahan malam dan siang. Dan seseorang yang diberi karunia harta oleh, sehingga ia menginfakkannya pada malam dan siang hari."

Takhrij Hadis:

  1. Shahih Bukhari no.73,1409.5025,5026,7141 dan 7529.
  2. Shahih Muslim no.815.
  3. Sunan Ibnu Majah no.4208 dan 4209.
  4. Musnad Ahmad no.4109,4550,4924 dan 5618.
  5. Jami' At-Tirmidzi no.1936

Kandungan Hadis:

1. Hasad yang Diperbolehkan (Ghibṭah)

    Hadis ini menjelaskan bahwa iri hati (hasad) yang dibolehkan adalah ghibṭah, yaitu keinginan untuk mendapatkan nikmat seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang dari mereka.

2. Dua Golongan yang Patut Diteladani

  • Pertama: Orang yang diberi ilmu (Al-Qur’an) dan mengamalkannya, terutama dengan membacanya di malam hari.
  • Kedua: Orang yang diberi kekayaan dan menginfakkannya siang dan malam di jalan Allah.

3. Keutamaan Ilmu dan Amal

Orang yang mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an, terutama dengan qiyamul lail (shalat malam), mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.

4. Keutamaan Sedekah

Orang yang dermawan dan konsisten bersedekah siang dan malam menunjukkan keikhlasan dan ketekunan dalam beramal.

5. Dorongan untuk Meneladani Kebaikan

Hadis ini mendorong umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan dalam urusan duniawi semata.

6. Pentingnya Amal yang Konsisten

Menekankan pentingnya amal yang terus-menerus (kontinu), baik dalam ibadah maupun dalam sedekah.




1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS DAN KEMUDANYA DALAM MEMPEROLEH PAHALA BESAR SETARA SEPERTIGA MALAM Al-QUR'AN

  REDAKSI HADIS حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ ع...