Redaksi hadis
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْذَنْ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ وَقَالَ صَاحِبٌ لَهُ يُرِيدُ يَجْهَرُ بِهِ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu pun kepada Nabi sebagaimana izin-Nya untuk melagukan Al-Qur'an." Salah seorang sahabatnya berkata, Maksudnya adalah melagukannya dengan suara yang keras.
Takhrij Hadis:
- Shahih Bukhari, Bab Man lam Yataghanna bi Al-Qur'an, no.5023.
- Shahih Muslim, Bab Istihbab Tahsiinu Ash-Shaut Bi Al-Qur'an, no.792.
- Sunan Abi Daud, Bab Istihbab At-Tartil fii Al-Qira'ah, no.1473.
- Sunan An-Nasa'i, Bab Tajyiin Al-Qur'an bi Ash-Shaut, no.1017 dan 1018.
- Musnad Ad-Darimi, Bab At-Taghanii bi Al-Qur'an, no.1529,1532,3533,3534 dan 3540.
- Musnad Ahmad, Dalam Musnad Ahmad, no.7670,7832 dan 9505.
Kandungan Hadis:
- Taghannī bil-Qur’an: Kata taghannī berarti membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan. Ini bukan bernyanyi dalam arti musik, tetapi memperindah bacaan sesuai dengan adab dan tajwid.
- Mengeraskan suara dalam bacaan: Sahabat menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca dengan suara yang terdengar, bukan sekadar dalam hati, agar bisa dinikmati dan direnungkan.
- Allah mencintai bacaan yang indah: Hadis ini menunjukkan bahwa Allah sangat menyukai bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan suara yang indah dan penuh penghayatan.
- Pengaruh spiritual: Bacaan yang merdu dapat menyentuh hati, menenangkan jiwa, dan menguatkan iman, baik bagi pembaca maupun pendengarnya.
- Dorongan untuk memperbaiki bacaan: Hadis ini mendorong umat Islam untuk belajar tajwid dan memperindah bacaan Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan terhadap wahyu Allah.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dan menunjukkan pentingnya seni membaca Al-Qur’an dengan penuh rasa dan keindahan, bukan sekadar melafalkan huruf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar