Redaksi Hadis
حَدَّثَنَا أَبُو
النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ
جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ
فَقُومُوا عَنْهُ
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man, telah menceritakan kepada
kami Hammad dari Abu Imran Al Jauni dari Jundub bin Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda, "Bacalah Al-Qur'an ketika hati-hati kalian memang menyatu, namun
jika kalian berselisih, maka beranjaklah darinya."
Takhrij Hadis:
- Shahih Bukhari no.5060
- Shahih Muslim no.2667
- Musnad Ad-Darimi no.3402
- Musnad Ahmad no.18816
- Rasulullah ﷺ memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca ketika hati-hati dalam keadaan saling menyatu dan harmonis.
- Ini menunjukkan bahwa kondisi batin dan suasana hati sangat penting dalam membaca dan memahami Al-Qur’an.
- Jika terjadi perbedaan, pertengkaran, atau perselisihan, maka hendaknya berhenti sejenak dari membaca Al-Qur’an.
- Hal ini untuk menjaga kehormatan Al-Qur’an dan agar bacaan tidak menjadi sumber perpecahan atau perdebatan yang tidak bermanfaat.
- Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan rahmat, maka membacanya harus dalam suasana tenang, khusyuk, dan penuh adab.
- Hadis ini juga menjadi dasar adab dalam majelis ilmu dan tilawah, bahwa jika suasana tidak kondusif, lebih baik ditinggalkan sementara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar